Malang (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara (ABM Malang) kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan standar internasional.
Pada Senin (2/3/2026), kampus ini menggelar agenda pelepasan empat mahasiswa untuk program internship (magang) ke Jepang, sekaligus penyambutan mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studi dan kerja di Negeri Sakura.
Momentum ini menjadi bukti konsistensi program internasionalisasi kampus yang telah terjalin bertahun-tahun. Acara yang digelar di lingkungan kampus tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan, orang tua, hingga keluarga mahasiswa yang datang dari berbagai daerah.
Empat mahasiswa yang resmi diberangkatkan untuk menjalani program internship selama satu tahun di Jepang adalah: Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, Parida Shifa Aszahri, Natercia Sarmento Mehezes, dan Farida.
Mereka akan ditempatkan di berbagai sektor strategis, mulai dari perhotelan, industri manufaktur, hingga perusahaan suku cadang yang berafiliasi dengan raksasa otomotif Jepang, termasuk jaringan Toyota.
Di sisi lain, kampus juga menyambut kepulangan empat mahasiswa yang telah sukses menyelesaikan program exchange dan internship selama satu tahun, yaitu Muhammad Ihsanuddin Tasywiq, Septia Dara Anandita, Silmehuriyah El Fithri, dan Salsabila Safira’ilma Syandairy.
Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) STIE Malangkucecwara, Dwi Nita Aryani, MM., Ph.D., menjelaskan bahwa program student exchange telah berjalan sejak 2015, sementara program internship dimulai pada 2020. Setiap tahun, kampus secara rutin mengirimkan 4 hingga 6 mahasiswa pilihan ke Jepang.
“Dampak terbesar dari program ini bukan sekadar pengalaman kerja, melainkan pembentukan karakter. Yang paling terasa adalah agility mereka ketangguhan, kecepatan adaptasi, hingga kemampuan problem solving di lingkungan baru,” ungkap Dwi Nita.
Selama di Jepang, para mahasiswa tidak hanya bekerja secara praktis di lapangan, tetapi tetap menjalankan kewajiban akademik melalui perkuliahan daring. Hal ini memastikan mereka tetap lulus tepat waktu dengan bekal skill, attitude, dan knowledge yang jauh lebih matang.
Program ini menuntut kesiapan mental yang luar biasa. Salah satu peserta yang berangkat, Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, mahasiswa Prodi Manajemen angkatan 2022, menyebutkan bahwa persiapan bahasa dan mental adalah kunci.
“Ini bukan sekadar bekerja, tapi belajar mengelola kehidupan dan tanggung jawab. Kami membawa nama kampus dan Indonesia. Yang paling penting adalah mental, karena kita akan hidup di lingkungan dengan budaya yang sangat berbeda,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Merci ini.
Kebanggaan serupa dirasakan Evi Taliasari, orang tua peserta asal Surabaya. Meski mengaku berat melepas putra tunggalnya, ia sadar ini adalah investasi masa depan.
“Ada rasa rindu pasti, tapi ini bagian dari pembelajaran agar dia mandiri. Di Jepang nanti dia akan belajar di bidang Food and Beverage dengan jam kerja profesional,” tuturnya.
Meski dinilai sukses, STIE Malangkucecwara terus melakukan evaluasi, terutama pada penguatan kemampuan bahasa Jepang dan kesiapan psikologis sebelum keberangkatan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kendala adaptasi budaya kerja Jepang yang dikenal sangat disiplin. (dan/ted)






