Ponorogo (beritajatim.com) – Puluhan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Ponorogo mengikuti pelatihan bagaimana memulai pasar ekspor. Acara pelatihan ini, merupakan kerjasama antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dengan Sekretariat Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kegiatan yang dilatih oleh Ahmad Iman Sukri, Staf khusus Menteri bidang media dan informasi Kemendesa PDTT itu, dihadiri oleh 30 BumDes dan pelaku UMKM di auditorium Hotel Mahesa Ponorogo.
Iman Sukri menyampaikan bahwa pelatihan ini, adalah bagian dari komitmen Kemendesa PDTT untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi di desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi. Dia menyebut bahwa banyak pelaku usaha desa yang menghasilkan produk unggulan berkualitas. Namun sering mengalami kendala dalam pemasaran produk, terutama dalam mengakses pasar internasional. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan khusus ini, disediakan untuk membantu mereka.
“Peningkatan kesejahteraan ekonomi dapat didorong dari peranan kelembagaan ekonomi desa, ya seperti BumDes, BumDes bersama, koperasi serta Usaha Kecil Menengah. Kita latih para pelaku usaha berbasis desa untuk dapat merambah pasar ekspor,” kata Iman SukriSukri, Selasa (10/10/2023).
Baca Juga: Said Abdullah: Semoga Putri Gusdur dan Gusdurian Satu Barisan Bareng Ganjar
Lebih lanjut, Iman Sukri yang saat ini juga mencalonkan diri sebagai calon DPR RI Dapil Jawa Timur VII menjelaskan, jika pada tahun 2022, Kabupaten Ponorogo tercatat memiliki 281 unit BUMDes yang terbagi ke dalam tiga klasifikasi, yaitu 76 tergolong maju, 157 berkembang dan 48 tergolong BUMDes pemula, serta 39.650 UMKM.
Kabupaten Ponorogo terpilih menjadi salah satu daerah yang dilatih memulai pasar ekspor, karena dilihat berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) hingga tahun 2023. Tercatat terdapat 60 desa yang telah berstatus Desa Mandiri, 157 Desa Maju, dan 64 Desa Berkembang. Ini artinya terdapat keterkaitan antara Peningkatan Indeks Desa Membangun (IDM) dengan peranan kelembagaan ekonomi desa.
“Banyak yang melakukan produksi komoditas desa, hingga menghasilkan produk unggulan yang berkualitas, namun masih terkendala dalam pemasaran produknya terutama dalam mengakses pasar internasional, saat ini kita latih serta kita berikan pendampingan khusus,” ujar Iman Sukri.
Baca Juga: Bupati Mojokerto Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Porprov Jatim VIII/2023
Melalui pelatihan yang digelar sampai tanggal 12 Oktober untuk memulai ekspor ini, para pelaku BumDes dan UMKM di Ponorogo dengan produk unggulan seperti teh kelor, olahan kunyit, olahan jahe, dan kopi berharap terus mendapat pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk olahan, serta bimbingan untuk merambah pasar luar negeri.
“Saya bersama teman – teman Bumdesa dan UMKM menyambut baik pelatihan ini, besar harapan kami melalui program pelatihan dan pendampingan ini produk kami dapat merambah pasar luar negeri,” kata Rahmat Zain, salah satu peserta pembuat produk olahan kelor tersebut.
Acara pelatihan ini juga dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Direktur Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan Kemendes PDTT, serta perwakilan dari instansi terkait di Kabupaten Ponorogo. Dengan pelatihan ini, diharapkan pelaku BumDes dan UMKM Ponorogo dapat terus berkembang dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal sambil merambah pasar ekspor yang lebih luas. (end/ian)






