Pamekasan (beritajatim.com) – Dunia olahraga cabang sepakbola memang identik dengan kaum pria, namun tidak jarang juga terdapat keberadaan kaum hawa yang berkecimpung secara langsung dalam olahraga si kulit bundar.
Bahkan keberadaan kaum hawa dalam dunia sepakbola justru menempati posisi sentral dan strategis, semisal Barbara Berlusconi yang sempat menjadi orang penting bagi klub asal Italia, AC Milan. Termasuk fisioterapi milik klub Liga Inggris, Chelsea FC.
Untuk kalangan sepakbola Eropa maupun Amerika, peran dan keterlibatan perempuan dalam sepakbola sudah menjadi hal lumrah. Tidak hanya sebatas perempuan di balik meja, tetapi sebagian di antara mereka juga ada yang berprofesi sebagai pemain, wasit dan lainnya.
Namun untuk sepakbola Indonesia, keberadaan perempuan terbilang masih tabu. Sekalipun terdapat beberapa perempuan yang memiliki peran cukup besar dan penting, mereka berkecimping secara langsung di dunia olahraga paling populer di dunia. Satu di antaranya Ratu Tisha Destria sebagai Sekretaris PSSI.
Termasuk juga nama Annisa Zhafarina Qosasi, putri sulung Achsanul Qosasi tersebut berkecimpung secara langsung dalam manajemen salah satu klub Liga 1, yakni sebagai Chief Operating Officer (COO) Madura United FC.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pssi-pamekasan”]
Tidak hanya di jajaran manajemen atau pengelola sepakbola, tetapi sebagian perempuan juga ada yang aktif sebagai pesepakbola profesional hingga berkecimpung sebagai wasit sepakbola. Beberapa di antaranya Tiga Srikandi Wasit Perempuan asal Pamekasan.
Ketiga srikandi wasit asal Pamekasan, masing-masing Herlinda Kurnia Tri Utami, Tria Wulandari Agustina, serta Ririn Meinawati. Ketiganya tercatat sebagai peserta pelatihan dan berprofesi sebagai wasit sejak 2020 lalu.
Herlinda Kurnia Tri Utami menyampaikan, dirinya mengaku tertantang dengan olahraga yang didominasi laki-laki. “Prinsipnya kami tidak hanya ingin mendapat predikat perempuan hanya untuk berada di dapur, tetapi perempuan juga bisa berkarir di bidang olahraga seperti sepakbola,” ungkapnya, Minggu (7/11/2021).
Perempuan kelahiran 31 Oktober 1994 silam, juga memiliki motivasi tersendiri saat memilih berkarir sebagai seorang wasit yang dijadikan sebagai sebuah tantangan. “Menjadi wasit tidaklah mudah, karena kita sebagai wasit harus bisa memutuskan segala sesuatu dalam hitungan beberapa detik,” sambung Linda.
“Kondisi seperti itu jelas menjadi tantangan tersendiri bagi kami para wasit wanita, sekaligus membuktikan jika perempuan juga bisa berkarir di bidang olahraga sepakbola, termasuk sebagai seorang wasit,” tegas perempuan asal Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pssi-pamekasan”]
Hal senada juga disampaikan Ririn Meinawati, wanita kelahiran 19 Mei 1999 yang memiliki hobi olahraga, juga mengaku sangat menyukai tantangan. “Sebagai perempuan, kami sangat menyukai tantangan,” kata perempuan asal Desa Panglegur, Pamekasan.
“Selain itu kami juga ingin mengubah pola pikir masyarakat umum yang menilai olahraga cabang sepakbola hanya bisa dinikmati kaum pria. Tapi sebenarnya, perempuan juga bisa diandalkan sebagai pengadil di lapangan hijau,” sambung perempuan yang mengaku banyak menemukan hal baru di dunia sepakbola.
Sementara Tria Wulandari Agustina mengaku sangat senang dan bangga bisa berkecimpung dalam dunia sepakbola. “Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bagi perempuan sepakbola merupakan hal yang tabu. Tetapi bukan berarti perempuan tidak bisa berkecimpung dalam dunia sepakbola,” kata perempuan kelahiran 30 Agustus 2001.
“Dengan keberadaan kami disini (sebagai wasit perempuan), semoga pada akhirnya dapat menarik minat para perempuan dan tidak minder saat berkecimpung di dunia olahraga yang didominasi kaum pria. Tidak kalah penting, ini juga menbuktikan jika perempuan juga bisa,” pungkas gadis yang hobi bersepeda. [pin/ted]






