Ngawi (beritajatim.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ngawi kembali menjadi sorotan setelah puluhan siswa SMKN 1 Sine mengalami dugaan keracunan pada Kamis (2/10/2025). Pasca kejadian tersebut, aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Jagir, Kecamatan Sine, untuk sementara berhenti beroperasi.
Kondisi di SMKN 1 Sine kini mulai berangsur normal. Proses belajar mengajar berjalan seperti biasa, meski masih ada 130 siswa yang tidak masuk dari total 1.357 siswa. Pihak sekolah memastikan absensi tersebut sebagian disebabkan sakit akibat dugaan keracunan maupun penyakit lain.
“Sejak MBG dihentikan hari ini, para siswa kembali membawa bekal dari rumah atau membeli makanan di kantin sekolah,” jelas Kepala SMKN 1 Sine, Agus Setyabudi.
Kondisi ini membuat sebagian orang tua siswa memilih menolak kembali program MBG. “Terus terang anak saya sudah trauma. Lebih baik saya bawakan bekal sederhana dari rumah, seperti tempe dan sayur bayam,” ujar Rani Agustina, salah satu orang tua korban.
Hal senada disampaikan siswa SMKN 1 Sine, Dicky Putra, yang mengaku kini teman-temannya lebih nyaman membawa bekal dari rumah.
Dapur SPPG di Desa Jagir yang dikelola Yayasan Jendela Cahaya Kebaikan diketahui menyuplai makanan bergizi untuk 2.600 siswa, termasuk 1.106 siswa SMKN 1 Sine. Namun, sejak dugaan keracunan mencuat, operasional dapur dihentikan sementara.
Hingga kini, belum jelas pihak mana yang memutuskan penghentian tersebut. Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menegaskan keputusan itu bukan dari pemerintah daerah.
“Kalau penutupan tersebut bukan dari pemerintah setempat. Pertimbangannya bisa jadi dari pihak BGN atau SPPG sendiri yang melakukan evaluasi,” ungkapnya.
Program MBG yang mulai berjalan pada Senin, 22 September 2025, menyediakan beragam menu untuk siswa, mulai dari nasi dengan sayur hingga lauk ayam lada hitam. Insiden di SMKN 1 Sine membuat program ini harus dievaluasi untuk memastikan keamanan makanan bagi seluruh penerima manfaat. [fiq/beq]






