Bondowoso, (beritajatim.com) — Sebuah dapur sederhana di Desa Tegal Pasir, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, setiap pagi sibuk memasak lebih dari satu kuintal nasi.
Bukan untuk hajatan atau pesanan katering biasa. Tapi untuk menyuplai makan bergizi gratis bagi 3.150 pelajar di 49 sekolah di Bondowoso.
Dapur itu milik SPPG Mitra Mandiri Jambesari—salah satu dari dua dapur aktif di bawah program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program ini adalah bagian dari upaya pemerintah menyediakan makan siang bergizi gratis (MBG) untuk pelajar, mulai dari PAUD hingga SMA.
“Target kita bisa menjangkau 3.500 siswa. Tapi tentu tidak bisa jalan sendiri. Kami perlu mitra dan kolaborasi,” kata Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Arh Ahmad Yani, yang turut memantau langsung jalannya program ini.
Menurutnya, sampai saat ini ada 10 calon mitra yang mendaftar, namun semua harus diverifikasi satu per satu. “Karena SPPG ini bukan cuma soal dapur, tapi soal tanggung jawab,” tegasnya.
Ahmad Yani menekankan, setiap mitra harus memastikan titik layanan tidak tumpang tindih. Satu SPPG idealnya melayani area maksimal radius 4 kilometer, agar distribusi makanan tidak kacau dan penerima manfaat tidak dobel.
“Perebutan lokasi penerima manfaat itu bisa jadi masalah kalau tidak diatur dari awal,” tambahnya.
Di dapur Jambesari, Magdalena sebagai pengelola membawahi 50 tenaga kerja—tiga staf dan 47 kru dapur.
Mereka bekerja dalam ritme cepat dan ketat. Tiga kali masak dalam sehari, satu panci bisa memuat 25 kilogram nasi, dan empat panci dikerahkan setiap kali giliran masak.
“Saya minta semua paket makanan jangan dibuka sebelum dikirim, supaya tidak dihinggapi lalat. Standar kebersihan kita jaga betul,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan di lapangan bukan hanya soal logistik makanan, tapi juga soal pengolahan limbah. Karena itu, pihaknya menjalin koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar tidak mencemari sekitar.
Sekda Bondowoso, Fathur Rozi, yang sempat meninjau langsung kondisi dapur, mengakui fasilitasnya cukup lengkap. Dari ruang penyimpanan bahan mentah, area masak, hingga ruang kemas makanan.
“Secara kesiapan dapur ini sudah baik. Harapannya bisa direplikasi di titik lain agar semakin banyak siswa terbantu,” katanya.
Meski sudah ada dua dapur aktif dan tiga calon mitra terverifikasi, cakupan program ini masih jauh dari target.
Kabupaten Bondowoso sendiri ditargetkan punya 70 titik SPPG. Rencana pengembangan sudah disiapkan untuk wilayah Pujer, Tlogosari, Wringin, dan Tamanan. Namun semua tergantung dari proses pengajuan dan kesiapan lapangan.
“Asal koordinasi dan tidak serobot wilayah mitra lain, kami terbuka untuk kolaborasi,” tutup Ahmad Yani. [awi/aje]






