Pasuruan (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Gus Imin, menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Program 1000 SPPG Pesantren untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam keterangannya, Gus Imin menegaskan bahwa pesantren adalah pihak yang paling siap menjalankan program MBG. Ia menyebut lingkungan pesantren memiliki keunggulan karena santrinya menetap, jumlahnya besar, dan dikelilingi banyak lembaga pendidikan.
“Pondok pesantren itu paling siap untuk melaksanakan program makan bergizi gratis karena menetap di satu tempat, santrinya dalam jumlah besar, dan banyak sekolah di sekitarnya,” kata Gus Imin.
Ia juga menyampaikan bahwa Kemenko PM telah membentuk tim percepatan yang akan fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan dapur MBG. Tim ini akan melibatkan banyak pihak termasuk pesantren, pemda, dan pelaku usaha lokal.
“Kita libatkan semua pihak untuk mempercepat realisasi dapur MBG. Harapannya, ini menciptakan peluang makan bergizi sekaligus menumbuhkan ekosistem ekonomi,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai kontribusi pesantren dalam pembangunan ekonomi, Gus Imin menegaskan bahwa pesantren adalah bagian penting dalam roda ekonomi masyarakat. Ia menyebut bahwa nilai kemandirian pesantren harus terus diperkuat.
“Pesantren punya kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi lokal. Sejarah membuktikan bahwa pesantren adalah kekuatan ekonomi dari rakyat untuk rakyat,” jelasnya.
Gus Imin juga menyoroti peran koperasi pesantren sebagai penggerak UKM di lingkungan pondok. Ia menilai koperasi menjadi ujung tombak dalam memperkuat usaha masyarakat.
“Koperasi pesantren sudah jadi andalan untuk UKM. Ini yang harus terus didukung dan diperluas,” ungkap Gus Imin.
Terkait target pembangunan SPPG di seluruh pesantren Indonesia, Gus Imin menyebut bahwa upaya percepatan terus dilakukan. Pemerintah menargetkan program ini bisa menyasar lebih dari 1.000 pesantren secara bertahap.
“Targetnya tentu 39 ribu pesantren, tapi 1.000 kita percepat dulu. Sekarang sedang kita kebut realisasinya,” tegasnya.
Program 1000 SPPG Pesantren ini diharapkan tidak hanya mencukupi kebutuhan gizi para santri, tapi juga menjadi motor penggerak ekonomi mandiri. Pemerintah berharap pondok pesantren bisa menjadi pusat ketahanan gizi sekaligus kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan. (ada/ted)






