Mojokerto (beritajatim.com) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian melalui kegiatan penyortiran benih lele di area Kolam SAE.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas budidaya perikanan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan usaha yang dapat dimanfaatkan setelah bebas.
Dalam kegiatan tersebut, warga binaan dengan pendampingan petugas memilah benih lele berdasarkan ukuran dan kondisi fisik.
Penyortiran tersebut dinilai sangat krusial untuk memastikan pertumbuhan ikan lebih merata sekaligus menekan risiko kanibalisme antar benih, sehingga hasil panen dapat lebih optimal.
Petugas pembinaan memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar, mulai dari pengecekan kualitas air, kepadatan kolam, hingga teknik pemeliharaan.
Dengan penyortiran yang rutin dan terukur, tingkat keberhasilan budidaya diharapkan terus meningkat. Program Kolam SAE sendiri menjadi salah satu unggulan pembinaan produktif di Lapas Kelas IIB Mojokerto.
Selain menanamkan kedisiplinan, kegiatan ini juga dirancang untuk menciptakan keterampilan nyata yang berdampak langsung pada kemandirian ekonomi warga binaan setelah menjalani masa pidana.
Melalui program tersebut, Lapas Kelas IIB Mojokerto menunjukkan komitmennya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memberdayakan dan berkelanjutan.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan mengatakan, jika kegiatan merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan yang berorientasi pada kualitas dan hasil nyata.
“Kami ingin memastikan setiap proses berjalan optimal, mulai dari pemilihan benih hingga masa panen. Penyortiran ini langkah penting untuk mencetak benih dan hasil budidaya yang unggul serta bernilai jual tinggi,” ungkapnya, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, program budidaya lele di Kolam SAE juga mendukung penguatan pembinaan kemandirian sekaligus ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan memperoleh keterampilan praktis yang berpotensi menjadi modal usaha ketika kembali ke masyarakat.
Salah satu warga binaan mengaku senang dapat terlibat langsung dalam proses budidaya. Ia menilai ilmu yang diperoleh sangat bermanfaat untuk masa depan. “Kami jadi paham cara memilih benih yang baik dan bagaimana merawatnya agar cepat besar dan sehat. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk bekal usaha setelah kembali ke masyarakat,” tuturnya. [tin/ted]






