Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, menyoroti keberadaan taksi listrik asal Vietnam yang mulai beroperasi di Kota Pahlawan. Ia mengaku prihatin terhadap dampak yang mungkin timbul terhadap pelaku transportasi lokal, khususnya pengemudi taksi online berbasis modal pribadi.
“Dengan adanya investasi transportasi baru tidak menggulung bisnis transportasi lama yang sudah ada. Khususnya bisnis transportasi dengan modal pribadi masyarakat Kota Surabaya,” tegas Achmad saat dikonfirmasi, Senin (21/7/2025).
Politisi Partai Golkar ini menegaskan pentingnya keberpihakan kebijakan pemerintah kepada warga lokal yang telah lebih dulu menggantungkan hidup dari sektor transportasi. Menurutnya, masuknya moda baru dari luar negeri harus diatur agar tidak menimbulkan ketimpangan.
Ia juga menyarankan agar kehadiran taksi listrik disinergikan dengan sistem transportasi massal yang ada di Surabaya. Achmad menilai potensi taksi listrik bisa dioptimalkan untuk menjangkau wilayah padat penduduk yang belum terlayani angkutan umum.
“Sepakat dengan masuknya investasi transportasi baru dengan mengawinkan dengan kebutuhan transportasi massal yang membutuhkan tambahan rute, yang saat ini baru 18 rute. Serta penambahan jangkauan sampai mendekati ke pemukiman padat penduduk,” ujarnya.
Achmad mengingatkan, pengembangan transportasi kota harus berbasis kebutuhan masyarakat. Tanpa integrasi dan pengawasan ketat, ia khawatir muncul potensi konflik horizontal antar pelaku usaha transportasi.
“Sehingga masyarakat pengguna transportasi massal tidak menggunakan dobel transportasi untuk menuju atau sampai ke tujuan,” pungkasnya. [asg/beq]






