Sorotan

Khilafah China

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan di sela KTT G20 di Osaka, Jepang 29 Juni 2019 lalu. [Foto: AP]

Dunia berubah sangat cepat. Kapan hari Amerika Serikat masih jagoan. Hajar sana, hajar sini, hantam kanan, hantam kiri. Gertak depan gebrak belakang. Tapi, tiba-tiba sekarang terlihat loyo, tidak tahu harus berbuat apa.

Melawan teroris, jago. Menghadapi Iraq, Iran, Syria, Amerika seperti Jingo. Tapi menghadapi musuh yang tak kelihatan, Covid-19, malah jadi bego.

Donald Trump bingung. mau lockdown takut ekonomi bangkrut. Mau tetap buka-bukaan maju mundur, karena serangan oposisi sangat gencar. Ia membuat banyak komentar menggelikan, seperti menyuntikkan deterjen dan pemutih ke tubuh untuk mencegah virus.

Sampai sekarang kasus positif Corona di Amerika hampir mencapai 900 ribu, terbanyak di seluruh dunia, dengan kematian 50 ribu jiwa, lebih dari sepuluh kali lipat korban tewas di China. Korban tewas diperkirakan akan melampaui korban Perang Vietnam, 60 ribu tewas.

Krisis ini menjadi ujian kepemimpinan dunia, dan Trump tidak menunjukkan kelasnya. Alih-alih mengambil tindakan cepat Trump sibuk cari kambing hitam. Menyalahkan China, memusuhi Badan Kesehatan Dunia WHO dan mengacam menghentikan iuran.

Di dalam negeri Trump lebih suka cari ribut dengan gubernur-gubernur yang berseberangan partai dengannya. Para gubernur dari Demokrat itu menghendaki lockdown total, Trump tidak sependapat dan malah memprovokasi warga untuk menolak lockdown. Demo menolak lockdown pecah di beberapa tempat, dan Trump terang-terangan mendukungnya.

Ekonomi Amerika suram. Pengangguran mencapai 10 juta orang dan diprediksi bisa bertambah sampai dua kali lipat. Pertumbuhan bisa negatif dan Amerika bisa terperangkap dalam resesi terburuk sejak depresi besar, 1930.

Ekonomi seluruh dunia akan mengalami nasib sama merasakan resesi atau bahkan depresi. Dunia tunggang langgang mencari kepemimpinan.

Amerika tak bisa diharapkan. Dulu waktu Perang Teluk di awal 1990-an Amerika bisa menggalang koalisi untuk menggempur Saddam Husein di Iraq. Paling tidak negara-negara sahabat setia Amerika seperti Inggris dan Australia rela kirim pasukan gabung Amerika. Begitu juga ketika Amerika menguber Osama bin Laden dalam perang melawan teror setelah serangan WTC 2001. Tapi sekarang, tidak ada sekutu, tidak koalisi, semua sibuk selamatkan diri sendiri.

Dunia seperti vakum kekuasaan sekarang dan setelah krisis Corona usai. Siapa yang akan mengisi kekosongan itu? Tak mudah diprediksi. Tapi, kandidat paling kuat, siapa lagi, kalau bukan China.

Orang boleh bicara apa saja mengenai China. Tapi, tak bisa dibantah bahwa China sudah keluar sebagai pemenang dalam krisis ini. Ketika hampir seluruh dunia masih panik menghadapi wabah, China sudah menuntaskan persoalannya.

China mengirim tenaga medis dan peralatan kesehatan ke berbagai penjuru dunia. Ketika Italia dan Spanyol menjadi episentrum wabah di Eropa dan negara-negara tetangganya setengah hati membantu, China cepat tanggap mengirim berbagai bantuan.

Gerakan China menjangkau cepat dan efektif ke negara-negara Asia, Afrika, dan sebagian Timur Tengah. Di Asia dan Afrika, China dianggap sebagai dewa penyelamat. Bukan saja di saat krisis seperti sekarang, tapi juga nanti ketika pemulihan ekonomi membutuhhkan pasar-pasar baru, maka pasar China yang bisa diandalkan untuk tujuan ekspor.

Pasar Amerika tak bisa diharapkan. Apalagi dengan kepemimpinan Trump yang tertutup seperti sekarang. Bahkan, Australia, sekutu lama Amerika, sudah berancang-ancang untuk beralih ke lain hati dengan melirik China. Gaya Amerika yang suka pamer “hard power”, kekuatan keras, sudah tidak laku lagi, dan gaya diplomatik halus, “soft power” lebih bisa diterima.

Wajah diplomasi soft power China makin kuat dengan munculnya Jack Ma, manusia terkaya di China, yang aktif mengirimkan bantuan peralatan dan obat-obatan ke seluruh penjuru dunia dan diterima dengan tangan terbuka. Beda dengan Bill Gates yang bantuan-bantuannya malah dicurigai bahkan dia dituduh menciptakan virus ini untuk mengurangi dengan paksa populasi dunia sampai 10 persen.

Upaya filantropi Gates malah makin memperburuk wajah Amerika. Sementara, WHO sendiri terlihat lebih dekat ke China daripada Amerika. Dirjen Tedros Adhanom Ghebreyesus dari Etiopia adalah orang pilihan China, dan China mempunyai hubungan sangat akrab dengan Etiopia yang dijuluki sebagai “Little China” dan menjadi gerbang masuknya investasi China ke berbagai negara Afrika.

Amerika dan sekutu-sekutu Eropa tidak membiarkan China menjadi lokomotif baru. Mereka menuntut dibentuk tim investigasi internasional untuk menyelidiki kemungkinan China melakukan keteledoran dalam penyebaran pandemi ini.

Amerika yang paling bersikeras. Kemudian Prancis dan Jerman mulai masuk barisan. Perang perebutan kepemimpinan global tak terhindarkan.

Siapa yang bakal jadi jawara? Amerika tetap masih terlalu tangguh. Tapi China adalah penantang serius dan satu-satunya. Seperti diprediksi Samuel Huntington dalam “The Clash of Civilization” (1996) perebutan kepemimpinan global akan terpolarisasi pada empat peradaban besar, Barat, Timur Konfusian, Kristen Ortodoks, dan Islam.

Peperangan berbasis ideologi antara kapitalisme vs komunisme dianggap sudah tamat sejak runtuhnya Uni Soviet dan sekutunya di Eropa Timur pada 1990. Francis Fukuyama kemudia memproklamasikan “The End of Hisrory” (1990), sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme sebagai kampiun dunia.

Perang yang muncul kemudian adalah perang peradaban ala Huntington. China mewakili peradaban timur yang konfusianis melawan Amerika representasi peradaban Barat Kristen. Inilah dua kekuatan yang sekarang ini paling digdaya, dan di tengah krisis pandemi ini China menunjukkan keunggulan.

Bagaimana dengan peradaban lainnya? Rusia yang mewakili peradaban Kristen Ortodoks Eropa Timur belum bisa membuktikan kepemimpinan global di tengah pandemi, karena masih harus berjuang mengatasi pandemi di dalam negeri.

Presiden Vladimir Putin juga lebih sibuk melakukan konsolidasi politik sehingga penanganan pandemi dan dampak ekokominya agak terbengkelai. Pada akhir perang peradaban Ortodoks Rusia akan cenderung berkoalisi dengan China atau bahkan Islam untuk melawan musuh bersama, Amerika Serikat.

Di mana kekuatan Islam dalam percaturan geopolitik pandemi sekarang? Belum juga kelihatan. Di tengah situasi keos seperti sekarang para aktivis khilafah mungkin berharap bisa mencuri kesempatan untuk mengambil alih kepemimpinan global. Tapi, belum ada tanda-tanda ke arah itu. Negara-negara Islam masih sibuk dengan urusan dalam negeri, termasuk Turki yang masih kelabakan mengatasi pandemi.

Khilafah global Amerika, sangat mungkin, telah memasuki episode akhir, tapi khilafah islamiyah belum juga menunjukkan kesiapan untuk mengambil alih. Tampaknya, khilafah China yang jauh lebih siap. (*)





Apa Reaksi Anda?

Komentar