Josep Gombau akhirnya resmi tersingkir dari kursi pelatih Persebaya, 20 November 2023. Satu-satunya memori yang tak bakal lenyap tentang pelatih asal Spanyol itu adalah kemenangan 3-1 atas Arema FC di Gelora Bung Tomo, Surabaya, (23/9/2023). Sisanya adalah kekalahan demi kekalahan.
Setelah kemenangan atas Arema itu, praktis Persebaya tak pernah memetik kemenangan. Dari empat pertandingan, Persebaya hanya sekali menuai hasil imbang 1-1 melawan Dewa United. Selanjutnya tim Bajul Ijo dihajar 2-3 oleh Persib Bandung, 1-3 oleh Bali United, 0-4 oleh Persik Kediri.
Kursi kepelatihan dikembalikan ke Uston Nawawi sebagai caretaker sebelum pertandingan tandang melawan Barito Putra. Namun lagi-lagi Persebaya kalah 0-2, Kamis (9/11/2023).
Ini fase sulit dan tak mudah dipahami. Saat ini Persebaya berada di peringkat 14 dengan 22 poin. Hanya terpaut empat poin dari zona degradasi. Namun selain memecat pelatih, manajemen Persebaya melepaskan 12 orang pemain lokal dan asing dan mendatangkan pemain-pemain baru.
Melepaskan pemain sebanyak itu dan menggantinya dengan serombongan pemain baru di awal musim adalah hal yang lumrah. Namun melakukannya di pertengahan musim, terutama di tengah situasi krisis, tentu saja menimbulkan sederet keraguan. Apalagi pemain yang dilepas adalah pemain yang sebelumnya menjadi tulang punggung seperti Ze Valente dan Sho Yamamoto, atau pemain senior seperti Ferdinan Sinaga yang diharapkan bisa menguatkan pemain-pemain muda.
Pertama, apakah langkah ini benar-benar melalui pertimbangan teknis yang matang atau sebentuk kepanikan belaka? Kedua, bagaimana proses pemilihan pemain-pemain baru itu, dan sejauh mana kualitas maupun kesesuaiannya dengan skema taktik pelatih? Siapa yang bisa menjamin para pemain baru ini tidak mengulangi kegagalan pemain-pemain sebelumnya?
Tiga kali pergantian pelatih dan hengkangnya pemain dengan jumlah yang sama dengan satu kesebelasan dalam satu musim kompetisi menunjukkan betapa buruknya perencanaan kontinjensi manajemen Persebaya. Perubahan komposisi tim di tengah musim, bahkan termasuk pelatih, sudah menjadi tradisi Persebaya sejak berkompetisi di Liga 1 pada 2018. Namun musim 2023-2024 adalah situasi yang terparah. Kita seperti melihat Persebaya tidak lagi tahu harus berbuat apa untuk keluar dari krisis.
Pada musim-musim sebelumnya, pergantian pelatih di tengah musim kompetisi seringkali menyelamatkan Persebaya dari keterpurukan. Namun tidak dengan musim ini. Kegagalan Aji Santoso dan periode singkat Gombau membuat Persebaya hari ini seperti seseorang yang terancam tenggelam dan berusaha melakukan apapun untuk menyelamatkan diri.
Optimisme awal musim untuk menjadi juara tak lagi tersisa. Kukuh Ismoyo, anggota Bonek Writers Forum, menyebut peluang juara sudah nyaris terkubur. Kesempatan masuk empat besar klasemen boleh dibilang tertutup, kecuali Persebaya memenangi 16 pertandingan yang tersisa. Sesuatu yang menyitir ucapan pelawak Asmuni: hil yang mustahal.
Ada rencana Uston Nawawi akan dipermanenkan menjadi pelatih setelah lisensi kepelatihannya diperbarui. Namun mengharapkan Uston menjadi mesias atau juru selamat juga terlalu naif. Dia memimpin skuat yang tengah compang-camping secara mental. Persebaya punya potensi kuat untuk berkembang. Mereka hanya perlu diingatkan bahwa tim ini terlalu besar untuk tenggelam dan ditenggelamkan. Persoalannya siapa yang bisa mengingatkan mereka?
Pertandingan melawan Rans FC di Stadion Maguwoharjo, Jumat (1/12/2023) sore, menjadi pembuktian: apakah keputusan memecat Gombau sudah tepat atau lagi-lagi ini hanya kepanikan belaka yang berujung kesia-siaan. [wir]






