Sorotan

Dakwah di Balik Sepatu

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.

Sabtu Sore (24/4/2021), bertempat di gazebo belakang rumah saya, Perum Pesona Surya Milenia Blok A03 Mangli-Kaliwates-Jember, berlangsung diskusi ganyeng dengan Oryza A Wirawan. Seorang jurnalis yang menulis buku “Drama Persebaya, Sehimpun Reportase Jatuh Bangun Persebaya Surabaya Mengarungi Liga Satu 2018”.

Diskusi terbatas jelang berbuka puasa tersebut dihadiri adik-adik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Sunan Ampel. Diskusi ini mengangkat tema “Puasa dan Bola”.

Sekilas puasa dan bola tak ada hubungannya. Padahal bagi beberapa pemain bintang klub sepakbola dunia, tentu keduanya berhubungan. Jadwal pertandingan di sana tak peduli bulan Ramadhan atau tidak. Islam sebagai agama minoritas dan agama manapun tidak dikaitkan dengan bola, maka jadwal pertandingan sama sekali tak mempertimbangkan puasa. Agama adalah domain privat.

Dari sinilah justru menariknya, beberapa pemain muslim ada yang tetap berpuasa, kendati dengan jadwal latihan yang ketat dan jadwal pertandingan yang padat. Di antaranya, Sadio Mane, striker andalan Liverpool yang tetap shalat dan puasa dalam permainan sepakbola.

Laku spiritual Mane ini menarik perhatian publik dunia, Inggris terutama. Performa Mane di lapangan hijau tetap bugar, kendati berpuasa. Dan, klub berjuluk The Reds memenangkan Liga Champions dalam menghadapi Barcelona di semi final pada 2019. Begitu pula saat menghadapi Tottenham Hotspur di laga final.

Mane tak sendirian, ada juga Mohamed Salah, pemain bintang Liverpool yang memborong gol pada Liga Champions, seorang muslim taat dan role model anak muda dunia. Salah hangat terhadap teman dan ramah terhadap musuh. Pribadi menarik yang menyihir fans klub dalam maupun luar negeri.

Keberadaan bintang sepakbola seperti Mane dan Salah, mendorong publk ingin mengetahui Islam lebih dalam. Malah, ada survey dari Universitas Stanford menyebutkan kehadiran Salah menurunkan Islamophobia di negeri Ratu Elizabeth tersebut. Akhlaq Salah di dalam maupun di luar lapangan, telah ‘menaklukkan’ jutaan mata dan hati para bolamania dunia.

Pemain asal Mesir ini dielu-elukan, sampai ada lagu fans klub kota distrik berpenduduk 466 ribu ini, bertekad menjadi muslim bila Salah mencetak gol kembali. Saya mendengar lagu ini merinding dan perasaan penuh syukur. Fikiran saya menggelayut di awan, “mujaddid” dakwah baru lahir di lapangan sepakbola.

Dari link https://www.youtube.com/watch?v=b-icmPutQDk, saya menyaksikan euforia supporter klub kota pelabuhan terbesar kedua setelah London, menyanyikan lirik lagu berikut dengan semangat membara:

“If he’s good enough for you, he’s good enough for me.
If he scores another few, then I’ll be Muslim too.
If he’s good enough for you, he’s good enough for me.
Sitting in the mosque, that’s where I wanna be!
Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.”

“Jika dia cukup baik untuk Anda, dia cukup baik untuk saya.
Jika dia mencetak beberapa gol lagi, maka saya akan menjadi Muslim juga.
Jika dia cukup baik untuk Anda, dia cukup baik untuk saya.
Duduk di masjid, di situlah yang saya inginkan!
Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.”

Magnitude dakwah dari mantan pemain AS Roma ini sungguh sangat spektakuler. Berbagai gol membuka pintu hidayah para supporter sepakbola Inggris. Peristiwa ini membuktikan bahwa hidayah itu berasal dari Allah. Sepatu Salah mengoalkan nur dalam hati gelap penduduk negeri yang terjangkit streotype Islam agama keras dan intoleran.

Pemain kelahiran Nagrig Mesir, 15 Juni 1992, juga menunjukkan lisanul hal afshahu min lisanil maqal (Bahasa perbuatan lebih fasih daripada bahasa lisan). Gaya hidup Salah yang sederhana, bersahaja, ramah, shaleh, dan suka berbagi dengan sesama, banyak yang bukan hanya tertarik pada pemainannya, tapi juga pada agama yang dianutnya.

Saya jadi teringat pada pernyataan Gamal Albana, adik dari Hasan Albana (pendiri Ikhwanul Muslimin), seorang penulis kitab yang berjudul Tafsir Al-Quran Al-Karim Bainal Qudama wal Muhadditsin. Dalam soal hidayah, ia menyatakan bisa jadi tafsir seorang insinyur, mekanik atau petani sampai pada cahaya kebenaran Al-Quran dengan studi spesifik, daripada ulama bersorban yang mengajar di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sebab, hikmah itu bisa datang kepada siapa saja, di mana dan kapan saja, sesuai dengan kehendak Allah SWT. [but]

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.



Apa Reaksi Anda?

Komentar