Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi menjadi salah satu daerah percontohan dalam implementasi penggunaan teknologi digital. Kabupaten di ujung timur di Pulau Jawa ini juga dinilai berhasil menjalankan program pelayanan daerah berbasis TIK bernama Smart Kampung.
Sehingga, daerah ini turut diundang dalam forum internasional ASEAN Smart City Network (ASCN) di Bali. Banyuwangi mewakili contoh smart city untuk level kabupaten. Sementara di level kota terdapat Makasar dan DKI Jakarta untuk level provinsi.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sekaligus ASCN National Representatives untuk Indonesia, Safrizal ZA mengatakan, inti pembangunan perkotaan cerdas di Indonesia tidak melulu berorientasi pada pemutakhiran teknologi dan digitalisasi.
Melainkan hal itu menyasar pada penerapan pengelolaan perkotaan yang berfokus pada peningkatan kemampuan pemerintah untuk dapat memahami persoalan masyarakat, memberikan solusi, serta kemudahan.
“Banyuwangi adalah contoh yang tepat. Di mana dengan keterbatasan anggaran mampu mengimplementasikan pelayanan publik berbasis digital. Bahkan, Banyuwangi bisa dibilang berhasil meningkatkan geliat ekonomi daerahnya,” ungkap Safrizal.
Baca Juga: Kiprah Kiai Saleh Lateng Pendiri Pesantren Lateng Banyuwangi
Safrizal menyebut Banyuwangi memiliki keunikan. Prinsip-prinsip smart city mampu diaplikasikan di daerahnya yang merupakan daerah pedesaan.
“Hal ini menjadi pembelajaran penting. Apalagi hal tersebut berkorelasi dengan peningkatan ekonomi masyarakatnya,” jelasnya.
Hasilnya berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Pasalnya, berdasarkan data BPS, kenaikan kemiskinan di Banyuwangi selama masa pandemi 2020-2021 hanya 0,01 persen, merupakan kenaikan kemiskinan terendah di Jatim. Per 2022, angka kemiskinan Banyuwangi 7,5 persen.
Data ini merupakan yang terendah dalam sejarah Banyuwangi sejak Indonesia merdeka. (rin/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”banyuwangi”]






