Surabaya (beritajatim.com) — Tingginya angka kasus Glaukoma yang sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal menjadi perhatian serius para tenaga medis. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saraf optik secara permanen dan berujung pada kebutaan jika tidak ditangani sejak dini.
Sebagai bagian dari kampanye kesehatan mata, JEC JAVA @ Surabaya menghadirkan layanan pemeriksaan mata gratis bagi masyarakat. Program ini digelar dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026 dan berlangsung sepanjang Maret hingga April 2026.
Dokter spesialis mata di JEC JAVA @ Surabaya, Dr. Dian Arumdini, SpM, menjelaskan bahwa deteksi dini menjadi langkah paling efektif untuk mengendalikan perkembangan glaukoma. Menurutnya, kerusakan penglihatan akibat penyakit tersebut bersifat permanen sehingga pencegahan melalui pemeriksaan rutin sangat diperlukan.
“Kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen, sehingga pencegahan melalui deteksi dini sangat penting,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Dalam program skrining yang berlangsung sepanjang bulan Maret hingga April 2026, ini, pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan dasar, seperti pengukuran tekanan bola mata menggunakan metode tonometri serta evaluasi kondisi saraf optik. Pemeriksaan tersebut penting terutama bagi kelompok dengan risiko tinggi, seperti penderita diabetes dan masyarakat berusia di atas 40 tahun.
Dr. Dian menyebut bahwa selama ini banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika gangguan penglihatan sudah cukup berat. Kondisi ini terjadi karena glaukoma berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
“Glaukoma sering disebut silent thief of sight. Kerusakan terjadi secara bertahap tanpa keluhan berarti, sehingga banyak pasien baru menyadarinya saat lapang pandang sudah menyempit,” jelasnya.
Selain layanan skrining, kegiatan edukasi kesehatan mata juga dilakukan melalui penyuluhan kepada komunitas di Surabaya. Tim medis memberikan informasi mengenai pola hidup sehat yang dapat membantu menjaga tekanan bola mata tetap stabil.
Data penelitian kesehatan menunjukkan bahwa provinsi Jawa Timur memiliki angka gangguan penglihatan yang relatif tinggi dibanding beberapa wilayah lain di Indonesia. Kondisi ini menjadi salah satu alasan JEC Group memperluas akses layanan kesehatan mata, khususnya di kawasan perkotaan dan wilayah penyangga.
Tidak hanya menyasar masyarakat umum, rumah sakit mata tersebut juga menggelar seminar ilmiah bagi tenaga kesehatan. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan deteksi dini glaukoma di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menurut Dr. Dian, diagnosis yang tepat sejak awal memungkinkan dokter menentukan terapi yang sesuai bagi pasien. Saat ini, penanganan glaukoma semakin berkembang, mulai dari penggunaan obat tetes mata hingga prosedur laser minimal invasif.
“Dengan diagnosis yang akurat dan pemantauan rutin, kualitas penglihatan pasien masih dapat dipertahankan dengan baik,” katanya.
Masyarakat yang ingin mengikuti program skrining dapat mendaftar melalui kanal informasi resmi milik JEC Group. Fasilitas pemeriksaan disiapkan dengan standar pelayanan kesehatan mata yang komprehensif.
Melalui kombinasi edukasi publik dan layanan pemeriksaan gratis, kampanye kesehatan ini diharapkan mampu menekan risiko kebutaan akibat Glaukoma serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan mata. (fyi/but)






