Lamongan (beritajatim.com) – Dunia literasi kembali menemukan cahayanya dari siswa yang tak disangka. Siti Rahma Nadya Novitasari, pelajar kelas X dari SMA Negeri 2 Lamongan (SMADALA), berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Kepenulisan Berbasis Konten Lokal Jawa Timur yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim).
Dalam kompetisi ini, lebih dari 500 naskah dari berbagai penulis se-Jawa Timur bersaing untuk masuk dalam daftar karya terbaik. Dari proses kurasi ketat oleh dewan juri, hanya 75 naskah terbaik yang dipilih.
Dan Rahma, siswa belia yang tinggal di Dusun Dampit, Desa Sumberejo, Kecamatan Lamongan, berhasil masuk ke dalam daftar tersebut. Prestasi ini menjadikannya satu-satunya pelajar asal Kota Soto yang lolos seleksi.
Dengan karya berjudul ‘Kain Tenun Parengan dan Lamongan di Setiap Seratnya’, Rahma menunjukkan bahwa kematangan literasi tak ditentukan oleh usia. Judul tersebut menyiratkan riset mendalam, kreativitas dalam memilih tema lokal, serta kekayaan referensi bacaan yang menjadi latar tulisannya.
Karyanya menonjol bukan hanya karena konten, tapi juga karena keberanian memilih tema yang kerap terlewatkan oleh pelajar seusianya.
“Terimakasih saya ucapkan kepada Bapak/Ibu Guru yang menginisiasi program kepenulisan, hingga mengantarkan saya pada titik ini. Melalui buku saya tak hanya belajar tentang bagaimana dunia bekerja dengan keajaibannya. Namun, mendorong saya untuk memahami perspektif, motif, keterkaitan dan rahasia dibalik bagaimana manusia bekerja dengan keajaiban dunia,” ujar Rahma dalam pernyataannya, Senin (12/5/2025).
Di tengah arus stigma terhadap generasi muda yang disebut-sebut kurang minat baca dan menulis, Rahma membuktikan bahwa dengan kemauan dan budaya literasi yang baik, seorang pelajar bisa mencetak prestasi di luar jalur konvensional akademik. Ia juga menjadi pelajar pertama dari SMADALA yang berhasil mencapai level ini dalam dunia kepenulisan.
Dalam dunia menulis, kredonya sederhana tapi tajam: membaca, membaca, membaca, lalu menulis. Rahma mempraktikkannya dengan baik. Ia membuktikan bahwa menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal kesadaran untuk memahami dunia dan menyampaikan perspektif yang bermakna. Dalam kesadaran itulah, gagasan bisa menjadi abadi dan menginspirasi. [suf]






