Jakarta (beritajatim.com) – Diskusi Publik yang digelar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengenai transformasi Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua dianggap memunculkan sinyal kuat dukungan terhadap KH Asep Saifuddin Chalim sebagai calon Rais ‘Aam PBNU.
Kelompok Muda NU Indonesia menilai forum yang berlangsung beberapa waktu lalu tersebut secara terang-terangan membahas visi besar pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto tersebut dalam mengelola pendidikan dan kemandirian umat menjadi jawaban konkret atas tantangan era disrupsi bagi warga Nahdliyin.
Kelompok Muda NU Indonesia memandang diskursus yang berkembang selama diskusi tersebut sebagai bentuk pengakuan nyata terhadap kapasitas Kiai Asep. Visi besar yang ditawarkan oleh para pembicara dinilai mengerucut pada satu kesimpulan, yakni kebutuhan NU akan sosok pemimpin yang memiliki pengalaman empiris dalam membangun sistem organisasi yang profesional dan visioner.
Ketua Kelompok Muda NU Indonesia, Asep Awwaludin, menegaskan bahwa gagasan yang dilempar para tokoh dalam diskusi tersebut secara tidak langsung mengonfirmasi rekam jejak kepemimpinan Kiai Asep. Menurutnya, NU di abad kedua tidak lagi cukup hanya dipimpin dengan teori, melainkan membutuhkan nakhoda yang memiliki bukti nyata dalam memajukan institusi pendidikan dan ekonomi umat.
“Kami melihat KH Asep Saifuddin Chalim sebagai figur yang mampu menjembatani tradisi pesantren dengan kemajuan zaman. Kepemimpinan beliau di Amanatul Ummah menunjukkan kapasitas manajerial, komitmen terhadap pendidikan, dan keberanian melakukan terobosan maka kami memandang diskusi publik abad kedua NU di DPP PKB sedang menyampaikan gagasan KH. Asep Saefudin Chalim secara tidak langsung,” ujar Asep Awwaludin.
Arah pembicaraan dalam forum PKB tersebut dinilai memperkuat keyakinan publik bahwa kriteria Rais ‘Aam ke depan haruslah sosok yang memiliki pengalaman konkret. Keberhasilan Kiai Asep membangun sistem pendidikan berkelanjutan yang diakui secara nasional maupun internasional menjadi modal utama yang sulit dibantah oleh para intelektual muda Nahdliyin.
Kebutuhan akan transformasi ini selaras dengan pandangan Gus Yusuf Chudhori yang hadir sebagai pembicara. Tokoh NU asal Jawa Tengah tersebut menekankan pentingnya pesantren melakukan lompatan besar untuk tetap relevan di tengah arus perubahan zaman tanpa harus mengorbankan identitas keulamaannya.
“Transformasi harus dilakukan. Kita harus menjaga karya ulama salaf tetapi kita juga membutuhkan pesantren untuk bisa berselancar di era disrupsi. Maka sudah saatnya pesantren-pesantren kita memiliki sekolah unggulan dan peningkatan fasilitas kesehatan,” tegas Gus Yusuf.
Kriteria “pesantren unggulan” yang disuarakan Gus Yusuf dinilai oleh banyak pihak telah diimplementasikan secara sempurna oleh KH Asep Saifuddin Chalim melalui jaringan Amanatul Ummah. Hal inilah yang mendasari munculnya opini bahwa gagasan transformasi NU yang dibahas di DPP PKB sebenarnya merupakan manifestasi dari visi yang selama ini telah dipraktikkan oleh Kiai Asep.
Kelompok Muda NU menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) Nahdliyin dan tata kelola organisasi yang visioner adalah “harga mati” bagi NU di abad kedua. Kapasitas Kiai Asep dalam mengelola pendidikan, mulai dari penguatan karakter hingga pencapaian prestasi akademik, dipandang sebagai prototipe kepemimpinan yang dibutuhkan PBNU di masa mendatang.
Momentum diskusi publik ini menjadi indikator penting bagi warga Nahdliyin bahwa arah kepemimpinan NU mulai bergeser ke arah yang lebih progresif dan manajerial. Dengan dukungan yang terus mengalir dari elemen pemuda, posisi KH Asep Saifuddin Chalim sebagai calon Rais ‘Aam dinilai semakin strategis dan relevan dengan dinamika global.
Eksistensi Amanatul Ummah sebagai model pesantren modern yang mandiri menjadi argumen paling kuat bagi para pendukung Kiai Asep. Mereka meyakini bahwa di bawah kepemimpinan beliau sebagai Rais ‘Aam, PBNU akan mampu melakukan transformasi organisasi yang lebih profesional, mandiri secara ekonomi, dan tetap bermartabat di mata dunia internasional. [ian]






