Lamongan (beritajatim.com) – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan partai yang eletabilitasnya tertinggi di Kabupaten Lamongan. Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Political Research Center Indonesia (PRCI), per bulan Mei 2023.
Dalam survei itu disebutkan bahwa elektabilitas PKB di angka 24,8 persen dan mampu mengungguli parpol lainnya seperti PDI Perjuangan (15,1 persen), Gerindra (12,7 persen), PAN (11,2 persen), Golkar (10,3 persen), Demokrat (8,4 persen), PPP (4,7 persen), Perindo (3,8 persen), dan Nasdem (2,9 persen).
“Sembilan parpol di atas berpotensi meraih kursi di DPRD Lamongan. Berdasarkan survei terbuka, hasilnya PKB mendapat 13 kursi, PDIP 8 kursi, Gerindra 7 kursi, PAN 6 kursi, Golkar 5 kursi, PPP 3 kursi, Perindo 2 kursi dan Nasdem 1 kursi,” ujar ,” kata Direktur Riset PRCI, Muhammad Firdaus, Kamis (8/6/2023).
Firdaus menambahkan, elektabilitas PKB pada survei itu pun berada di posisi paling atas dari 5 daerah pemilihan (dapil) se-Kabupaten Lamongan.
“Iya, elektabilitas PKB di dapil 1 mencapai 38,1 persen, dapil 2 mencapai 36,8 persen, dapil 3 mencapai 28,6 persen, dapil 4 mencapai 33,4 persen, dan di dapil 5 mencapai 27,3 persen,” beber Firdaus.
Menanggapi hasil ini, Firdaus menyatakan bahwa PKB merupakan partai yang memiliki basis yang kuat. Selain itu, PKB juga sangat berkaitan erat dengan Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin. “PKB dipimpin siapapun, maka PKB tetap naik, karena faktornya itu NU,” imbuhnya.
Meski elektabilitas PKB di Lamongan berada di puncak, namun Calon Bupati dari kader PKB yang berkontestasi dalam Pemilukada Lamongan kerap kurang greget, bahkan kandas di tengah jalan. Padahal, PKB juga merupakan partai pemenang di Kota Soto dan mampu meraup 10 kursi di DPRD Lamongan saat ini.
Baca Juga: Survei PRCI: Jika Pilkada Lamongan Digelar Sekarang, Yuhronur Berpeluang Unggul
Tak cukup itu, tingginya elektabilitas PKB di Lamongan itu tak sebanding lurus dengan elektabilitas Ketua DPC PKB Lamongan Abdul Ghofur. Popularitas Abdul Ghofur sebagai pimpinan tertinggi dari partai pemenang pun masih berada di bawah Suhandoyo, Yuhronur Efendi, Abdul Rouf dan Kartika Hidayati.
Menurut Firdaus, hal itu disebabkan oleh kurang beraninya Abdul Ghofur dalam mengambil sikap taktis dan tidak tegasnya dalam berkontestasi. Firdaus menyebut, Abdul Ghofur sebagai nakhoda DPC PKB Lamongan juga kurang jelas dalam mengatur arah partainya.
“Karena tidak adanya keberanian dan tidak ada kejelasan terkait ketua partai selaku kepala nakhoda, maksudnya tidak jelas, membawa arah partai politiknya ini koalisi atau oposisi terhadap pemerintah. Sehingga masyarakat pun menilai bahwa PKB ini kemana arah keberpihakannya,” paparnya.
Baca Juga: Elektabilitas PKB 31,2 Persen di Jatim, Ini Kata Gus Halim
Ditambahkan Firdaus, jika PKB Lamongan menargetkan bisa memperoleh 15 kursi di Lamongan pada Pemilu 2024 mendatang, maka seharusnya gerakan dan gebrakan politik itu sudah dibangun mulai saat ini, tak terkecuali Ketua DPC PKB yang harus intens tampil melalui pendekatan populis di masyarakat.
“Seandainya memang PKB Lamongan ini target kursinya lebih, harusnya ada gerakan dan gebrakan politik secara massif yang dilakukan oleh ketua, termasuk pendekatan secara populis terhadap tim-tim sukses dari caleg-caleg PKB di 5 dapil,” beber Firdaus.
“Sekaligus mereka melakukan konsolidasi bahwa PKB pada Pilkada 2024 Calon Bupatinya adalah Abdul Ghofur semisal. Suara-suara itu mestinya harus muncul. Tapi kita mengamati apa yang dilakukan oleh dewan-dewan dari PKB saat reses atau acara-acara PKB itu belum pernah didengungkan bahwa Abdul Ghofur dicalonkan orang PKB,” imbuhnya.[riq/ted]






