Jakarta (beritajatim.com) – Dampak ekonomi global yang bergejolak mulai terasa. Agar dapat mengantisipasi dampak tersebut, diperlukan sinergitas kebijakan moneter dan fiskal.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, menilai sinergitas ini penting dilakukan. Sebab, resesi global semakin mendekati kenyataan, ditambah perlunya menjaga inflasi agar tetap berada di titik keseimbangan.
“Keseimbangan inflasi menjadi penting di mana inflasi harus dijaga agar tidak terlampau tinggi dengan instrumen moneter dan fiskal,” ucap Nailul.
Dari sisi moneter, kenaikan suku bunga acuan dinilai bisa mengendalikan inflasi. Tetapi, berdampak kepada perekonomian yang melambat.
Sedangkan dari sisi fiskal, instrumen stok barang harus dilakukan untuk mengendalikan harga komoditas dalam negeri.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ekonomi-global”]
Menurut Nailul, BI telah mengambil peran dengan menaikkan suku bunga, sehingga sekarang adalah tugas pemerintah untuk menjalankan kebijakan fiskal.
“Makanya memang Pak Perry (Gubernur Bank Indonesia, red) menekankan sinergi karena BI udah naikin suku bunga acuan berkali-kali. Giliran pemerintah eksekutif dari sisi fiskalnya,” ujarnya.
Sementara Direktur Eksekutif Segara Institute, Piter Abdullah menilai, pemerintah belum perlu melakukan extra effort, menambah kebijakan terkait beratnya prospek perekonomian global. Asal, pemerintah mampu menjaga perekonomian dalam negari.
“Ditengah kondisi global, andalan kita adalah permintaan domestik, pasar dalam negeri, jangan sampai ada gangguan,” kata Piter. [hen/beq]






