Malang (beritajatim.com) – Penderitaan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan semakin bertambah seiring jalannya persidangan di gelar di Pengadilan Negeri Surabaya. Mereka harus bolak-balik dari Malang ke Surabaya untuk sekedar menyaksikan jalannya persidangan.
Seharusnya sidang ini memang digelar di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang. Namun, karena mendapat penolakan dari Forkopimda Kabupaten Malang, sidang akhirnya digelar di Surabaya.
Keluarga korban selain harus pergi ke Surabaya untuk menjemput keadilan. Mereka juga terus merasakan sejumlah tekanan ketika mendatangi proses persidangan. Mulai dari penolakan kehadiran Aremania ke Surabaya oleh Bonek juga hadirnya ribuan aparat keamanan dalam proses persidangan.
“Persiapan keluarga mental. Kalau bisa yang diminta keluarga korban sidang di Malang sini. Kalau di Surabaya kami merasa terancam. Kan di jalan takut ada apa-apa (perjalanan Malang-Surabaya),” kata salah satu keluarga korban, Juariyah, Rabu, 25 Januari 2023.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Tragedi-Kanjuruhan”]
Juariyah adalah ibu dari mendiang Sifwa Dinar Arta Mevia (17 tahun) salah satu dari 135 korban meninggal dunia. Juariyah pun mulai mengadukan hal ini kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Mereka ingin mendapat perlindungan dalam upaya hukum ke depan.
“Bukan kayak terancam, tapi ya jaga-jaga gitu lah. Kayak kita ke Surabaya menghadiri sidang. Itu pun kami keluarga korban, berempat. Tapi disana Bonek sudah banyak di jalan-jalan, polisi pun disana sudah ada 1.600 personel yang berjaga. Kami mau masuk (ruang sidang) pun sempat dihadang gak boleh masuk disana,” ujar Juariyah.
“Kami pun akhirnya boleh masuk, tapi dihadang disuruh duduk dulu. Masuk ke tempat ruang sidang dihalang-halangi, padahal sidang sudah dimulai,” imbuhnya.
Selain Juariyah, salah satu keluarga korban lainnya adalah Andi Kurniawan warga Kota Malang. Dia adalah kakak dari mendiang Mita Maulidia (26 tahun). Meski merasa terancam dia mengaku tidak takut. Sebab, tujuan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan ke PN Surabaya bukanlah untuk membuat onar tapi mencari keadilan.
“Kalau pengalaman sih di depan PN Surabaya banyak Bonek dan polisi. Itu pun pulang dari PN dekat mobil ada yang mengintai. Memang ada sih ketidaknyamanan. Berani tapi kita. Karena kan kami mau menuntut keadilan untuk almarhumah adik saya,” tandas Andi. (luc/kun)






