Siapa Dia

Mengenang (Alm) KH Moh Thohir Zain Abd Hamid

Sosok Muda dan Visioner

KH Moh Thohir Zain Abd Hamid.

“Para santri tidak mungkin akan jadi kiai semua, sehingga sektor-sektor lain juga harus diisi. Untuk itulah mereka harus dipersiapkan agar lebih kapabel meraihnya”.

Salah satu ungkapan (dawuh) dari sosok kiai muda visioner, KH Mohammd Thohir Zain Abdul Hamid yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, yang wafat pada Sabtu (3/7/2021).

Ungkapan tersebut seringkali disampaikan kepada para santri maupun alumni maupun dalam berbagai kesempatan. Sekaligus menjadi salah satu harapan mencetak para santri agar memiliki kompetensi di berbagai bidang, tentunya tidak lepas dari nilai dasar sebagai seorang santri.

Cukup banyak dawuh bijak yang seringkali menjadi bekal, spirit dan motivasi bagi para santri untuk terjun ke masyarakat. Salah satunya melalui spirit ‘Kemandirian Umat’, di mana para santri dan alumni juga sering diingatkan agar selalu dapat memberikan manfaat kepada orang banyak.

Beragam pokok bahasan juga sering disampaikan sebagai penanda jika ia merupakan sosok yang tidak hanya terfokus pada sektor pendidikan semata, sharing lintas tema juga sering dijadikan bahasan sebagai bentuk reaksi terhadap perkembangan kondisi sosial kemasyarakatan.

Mulai dari bahasan ringan seputar agama, pendidikan, ekonomi, struktur sosial masyarakat hingga seputar kritik sosial terhadap predikat kiai ataupun santri. Hal tersebut justru menandakan dirnya sebagai sosok berwawasan luas dengan kecenderungan terhadap sesuatu yang baru tanpa harus melupakan esensi nilai lama.

Tidak hanya itu, almarhum yang akrab disapa Ra Tohir juga terbilang sebagai sosok yang berani menatap kedepan yang dituangkan melalui ide dan gagasan dalam sebuah visi besar untuk memajukan sektor pendidikan, khususnya dalam lingkup dunia pesantren.

Sejak masih belia, ia juga dikenal memiliki ‘jiwa pemberontak’ atas sesuatu yang dinilai tidak semestinya. Tidak jarang ia juga seringkali sungkan jika ada orang yang menghormatinya secara berlebihan karena status ‘lora’ atau putra dari Kiai Kharismatik (KH Abd Hamid AMZ), Allah Yarham.

Dibalik dirinya yang mengalir ‘darah langit’, sebuah sebutan priviledge atas status tersebut, ia justru tidak segan memakan nasi bungkus dengan cara lesehan sebagaimana santri pada umumnya. Itupun ia lakukan bersama para santri ataupun alumni.

Bahkan dalam konteks pendidikan, Ra Tohir juga sangat menginginkan para santri kurang mampu secara ekonomi agar tidak minder dan harus tetap memiliki cita-cita besar. Karena ia menilai hal tersebut sebagai hakikat dari sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Dari itu, mantan Ketua STAI Al-Khairat Pamekasan (saat ini IAI Al-Khairat Pamekasan) juga terjun langsung mensponsori para santri untuk berani melanjutkan studi ke luar negeri. Seperti Brunai Darussalam, China, Malaysia, Mesir, Sudan, Turki, Yaman dan sejumlah negera lainnya.

Sebagai bentuk komitmen sekaligus apresiasi atas gagasan tersebut, Ra juga menjadi sosok penting sekaligus inisiator program akselerasi di pesantren yang didirikan KH Abd Madjid Bin KH Abd Hamid Banyuanyar. Termasuk membekali para santri melalui program pengembangan bahasa asing, mulai dari bahasa Arab, Inggris, Mandarin, Turki, Prancis dan lainnya.

Untuk diketahui, KH Mohammd Thohir Zain merupakan putra keempat dari pasangan KH Abdul Hamid Bin KH Ahmad Mahfud Zayyadi dan Ny Hj Mutiah Binti KH Abd Muqit. Ia wafat pada usia sekitar 40 tahun (kelahiran 14 Desember 1981).

Semasa hidup, almarhum mengenyam pendidikan formal di lingkungan Pesantren Bata-Bata, mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah. Setelah itu, ia juga melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, mulai dari STAI Al-Khairat Pamekasan hingga UIN Malik Ibrahim Malang untuk program Pascasarjana.

Selain mengenyam pendidikan formal, Almarhum juga pernah nyantri di sejumlah pesantren di luar Madura. Seperti Pondok Pesantren Langitan Tuban, Pondok Pesantren Darun Najah Malang. Sementara beragam karya juga sempat ditulis dan dipublikasikan untuk khalayak, di antaranya ‘Lora; Status dan Kompetensi Keilmuan sebagai Penerus Pemimpin Pesantren’, serta Risalah Haji dan Umroh. [pin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar