Jember (beritajatim.com) – Fraksi PDI Perjuangan menyetujui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024 dengan catatan, dalam sidang paripurna keempat di gedung DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (28/11/2023) malam.
“Penyusunan Rancangan APBD Kabupaten Jember Tahun Anggaran 2024, telah selesai dilakukan dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), untuk mewujudkan pelayanan kepada masyarakat, demi tercapainya tujuan cita – cita menjadikan Kabupaten Jember semakin makmur dan sejahtera,” kata Tabroni, juru bicara Fraksi PDIP.
Tabroni mengatakan, pengesahan APBD 2024 sebelum berakhirnya tahun anggaran 2023 menandakan sinergi dan kolaborasi yang baik, antara Pemkab dan DPRD Kabupaten Jember. “Kami akan terus mengingatkan, Bupati Jember agar penggunaan alokasi belanja dalam APBD 2024 dilakukan dengan penuh kecermatan dan kebijaksanaan, khususnya pada alokasi belanja hibah serta alokasi belanja bantuan Sosial,” katanya.
“Jangan sampai alokasi tersebut justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Apalagi mengingat tahun 2024 merupakan tahun politik. Maka, sudah menjadi kewajiban kita bersama, termasuk bupati untuk lebih cermat dan hati-hati terkait kedua alokasi belanja tersebut,” kata Tabroni.
Tabroni kemudian mengutip pernyataan Bung Karno. “Sang Putra Fajar memimpikan bangsanya bersemangat elang perkasa, bercita – cita agar rakyatnya menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, berjiwa api yang menyala-nyala,” katanya.
“Sang Putra Fajar tidak pernah mengenal lelah untuk membangunkan, menyadarkan kembali, menggembleng manusia Indonesia agar bangun, tegak berdiri, tegap melangkah mewujudkan Indonesia jaya. Yang salah satunya dengan menggelorakan suatu perubahan besar mentalitas, sebuah gerakan hidup baru yang disebutnya sebagai Revolusi Mental,” kata Tabroni.
Menurut Tabroni, revolusi mental pada hakikatnya adalah sebuah ajakan perbaikan, dengan meninggalkan segala penyakit mentalitas yang mengerogoti anak bangsa, di masyarakat maupun kalangan pemerintahan.
“Revolusi mental menurut Bung Karno menghendaki manusia Indonesia untuk meninggalkan kemalasan, korupsi, individualisme, ego-sentrisme, ketamakan, keliaran, dan menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya,” kata mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini.
“Kemudian, Sang Penyambung Lidah Rakyat berupaya keras membangun dan menggembleng mentalitas bangsanya agar menjadi manusia paripurna, sebaliknya tidak menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli bangsa-bangsa lain,” kata Tabroni. [wir]






