Jember (beritajatim.com) – Penanganan sampah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memerlukan partisipasi masyarakat 248 desa dan kelurahan. Bank sampah di setiap desa dan kelurahan memegang peran penting.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember Sugiarto berharap ada bank sampah di setiap desa dan kelurahan. “Komunitas (di masyarakat) kita harapkan bersama bank sampah di tiap desa dan kelurahan berkolaborasi untuk menghidupkan ekonomi di sana,” katanya, ditulis Selasa (21/2/2023).
“Kalau di setiap desa ada bank sampah, maka yang dikelola hanya sedikit. Mungkin cuma sekitar 20 ton tidak sampai. Dengan jumlah itu, pengelolaan secara manual bisa dilakukan. Kita bisa menghidupkan ekonomi di desa tersebut. Penganggarannya bisa melalui dana desa,” kata Sugiarto.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sampah”]
Sugiarto memperkirakan, masyarakat Jember memproduksi 1.200 ton sampah setiap hari. DLH sebenarnya bisa mengangkut sampah 248 desa dan kelurahan di Jember Namun Sugiarto ingin masalah sampah diselesaikan di hulu dengan partisipasi masyarakat. Apalagi di sejumlah lokasi, partisipasi masyarakat mulai terlihat.
Saat ini masyarakat di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, memproduksi magot di Baratan sebanyak 17 ton per bulan. Sementara itu selama tiga bulan terakhir ini, masyarakat mulai memproduksi magot di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. di Kecamatan Pakusari.
Sebanyak 46 ton magot diproduksi setiap bulan di Pakusari. “Dari sana, koperasi (yang mengelola) bisa menghasilkan omzet Rp 276 juta per bulan. Artinya, sampah organik kita sebelum kembali ke alam masih bisa menghasilkan rupiah,” kata Sugiarto..
Sugiarto berharap perbankan mau membantu akses permodalan untuk menghidupkan komunitas peduli sampah. “Masalah utamanya di pendanaan, infrastruktur, dana sarana prasarana. Bagaimana pun mereka tetap butuh alat angkut. Selama ini pihak ketiga yang bekerja sama dengan komunitas adalah Perum Pegadaian,” katanya. [wir/kun]






