Pasuruan (beritajatim.com) – Setelah hampir enam bulan disegel, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jeladri 1, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, akhirnya kembali dibuka. Penyegelan yang dilakukan sejak September 2024 tersebut sempat mengganggu kegiatan belajar mengajar, memaksa siswa untuk belajar di tempat lain.
Wakil Bupati Pasuruan, Shobih Asrori, turun langsung ke lokasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Forkopimcam, dan Sekretaris Daerah (Sekda) untuk membuka segel yang dipasang oleh warga.
Shobih Asrori menegaskan bahwa penyegelan tanpa keputusan pengadilan tidak dibenarkan karena berdampak pada hak dasar anak-anak untuk mendapatkan pendidikan. “Kalau ada yang menggugat, seharusnya ke pengadilan dulu. Baru jika ada keputusan, penyegelan bisa dilakukan. Ini tidak ada apa-apa tiba-tiba disegel,” ujarnya, Rabu (26/2/2025).
Menurutnya, dokumen kepemilikan sekolah sangat kuat. Jika terjadi penyegelan lagi, Shobih menegaskan pihak sekolah atau pemerintah daerah dapat melaporkan ke aparat berwenang. “Kalau ada yang menyegel lagi, itu bisa dilaporkan. Itu namanya penyerobotan, karena tidak melalui keputusan pengadilan,” tegasnya.
Meskipun segel telah dibuka, siswa baru bisa kembali beraktivitas di sekolah pada 6 Maret 2025. Hal ini karena sekolah masih libur menyambut awal Ramadan. Namun, per 6 Maret nanti, hanya beberapa kelas yang bisa digunakan. Sementara kelas lainnya masih dalam proses perbaikan, sehingga sebagian siswa masih harus belajar di luar sekolah.
Shobih memastikan perbaikan SDN Jeladri 1 menjadi prioritas pemerintah daerah agar seluruh siswa dapat kembali belajar dengan nyaman. “Dulu sekolah ini sudah mendapatkan DAK dari pusat, tapi sempat terhenti. Sekarang akan jadi prioritas dari Dinas Pendidikan. Intinya, mana yang bisa ditempati harus segera ditempati, yang belum bisa kita benahi dulu,” katanya.
Salah satu guru SDN Jeladri 1, Edi Siswanto, menyambut baik langkah Pemkab Pasuruan yang turun langsung menangani permasalahan ini. Selama ini, kegiatan belajar mengajar berpindah-pindah dari bangunan madrasah hingga ke rumah para guru. “Saya senang karena anak-anak bisa belajar kembali di sekolah dengan nyaman,” ujarnya. (ada/but)






