Bondowoso (beritajatim.com) – Empat hari lamanya masyarakat Bondowoso dilanda keresahan akibat panic buying bahan bakar minyak (BBM). Antrean panjang mengular di sejumlah SPBU, memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Namun, Ketua DPC Hiswana Migas Area Besuki, Ikbal Wilda Fardana, memastikan bahwa situasi kini telah normal dan stok BBM di seluruh SPBU Kabupaten Bondowoso dalam kondisi aman serta terjaga.
“Kami memastikan, Hiswana Migas memastikan bahwa stok setiap hari itu tidak pernah habis, akan selalu tersedia setiap hari. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Ikbal saat ditemui usai melakukan pemantauan di sejumlah SPBU Tamansari, Senin (9/3/2026).
Menurut Ikbal, gelombang kepanikan masyarakat mulai terjadi pada hari Kamis dan terus berlangsung hingga Minggu. Selama empat hari tersebut, warga berbondong-bondong memadati SPBU untuk mengisi BBM secara berlebihan. Pemicunya adalah isu tidak benar mengenai gangguan pasokan serta kekhawatiran menghadapi libur Lebaran.
“Waktu panic buying mulai hari Kamis ya. Mulai hari Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, empat hari berarti. Hari Senin pagi sudah mulai terurai antrian. Alhamdulillah tidak berlalu larut,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan pembeli tersebut murni disebabkan oleh kepanikan masyarakat, bukan karena gangguan pasokan atau distribusi dari Pertamina.
Stok BBM setiap hari, kata dia, selalu tersedia. Kekosongan yang sempat terjadi di beberapa SPBU saat puncak kepanikan terjadi karena BBM habis lebih dulu diserbu masyarakat sebelum pengiriman berikutnya tiba.
“Jadi begini, karena memang dari stok dan pengiriman tidak ada terkendala sama sekali, aman ya. Hanya saja masyarakat yang panic buying. Ada pun kemarin misalkan SPBU itu terjadi kekosongan, itu ya karena BBM diserbu oleh masyarakat. Pengiriman belum sampai, BBM yang di SPBU sudah habis dulu. Nah itu persoalannya,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan memastikan ketersediaan stok tetap terjaga, Hiswanamigas bersama Pertamina melakukan penambahan kuota BBM sekitar 30 persen di seluruh SPBU Bondowoso. Bahkan, Kabupaten Bondowoso kini menjadi skala prioritas utama dalam pengiriman BBM.
“Ya, ada penambahan kuota sekitar kurang lebih 30 persen. Kemudian untuk pengiriman juga sekarang Kabupaten Bondowoso menjadi skala prioritas utama,” ungkap Ikbal.
Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Bondowoso, Kukuh Rahardjo, turut memantau perkembangan situasi di lapangan. Ia mengamati bahwa durasi panic buying di Bondowoso ternyata lebih panjang dibandingkan kabupaten tetangga seperti Situbondo dan Jember yang lebih dulu menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
“Memang beberapa hari seperti Situbondo, Jember, dan Bondowoso terjadi panic buying. Memang yang lainnya sudah reda, Bondowoso masih panic buying. Tapi Alhamdulillah mulai hari ini sudah reda juga dan normal,” ungkap Kukuh.
Menurut legislator Partai Golkar ini, kepanikan masyarakat dipicu oleh isu tidak benar mengenai kapal tanker Pertamina yang ditahan. Isu tersebut membuat masyarakat takut akan kehabisan BBM sehingga melakukan pembelian di luar kebiasaan.
“Isu kapal tanker kita ditahan di sana, jadi masyarakat takut akan kehabisan BBM sehingga melakukan pembelian yang berlebih. Padahal kita pantau di semua SPBU, kuotanya tetap. Bahkan karena terjadi panic buying itu, dengan koordinasi dari pemerintah, dari Hiswana Migas maupun dari Pertamina, akhirnya hampir semua SPBU ditambah kuotanya,” jelas Kukuh.
Ia mengapresiasi langkah cepat Pertamina yang merespons dengan menambah pasokan BBM. Kebijakan serupa, kata dia, pernah diterapkan saat terjadi penutupan jalan di Gunung Kumitir dan kemacetan di Pelabuhan Tanjung Wangi.
“Jadi Pertamina dengan kebijakannya menggelontor kebutuhan BBM yang biasanya 16 atau yang biasanya 8 dinaikkan jadi 16, yang 16 dinaikkan jadi 24. Dan bisa kita lihat sendiri Alhamdulillah mulai hari ini antriannya sudah mulai terurai,” terang Kukuh.
Menurutnya, sebenarnya tanpa penambahan kuota pun stok BBM di SPBU dipastikan aman, asalkan masyarakat tidak panik. Ia mencontohkan daerah lain yang tidak mengalami gejolak berarti karena masyarakatnya lebih tenang.
“Dan semestinya tanpa digelontor pun, kalau masyarakat bisa tenang dan tanpa ada panic buying, saya kira juga tidak akan kehabisan stok di SPBU. Karena melihat di daerah lain kan sebenarnya aman-aman saja,” pungkasnya.
Kondisi normal yang terjadi pada hari Senin ini disambut baik oleh masyarakat. Rizky Kurniawan, warga Kelurahan Sekarputih yang ditemui di SPBU Tamansari, mengaku hanya butuh waktu lima menit untuk mengisi tangki kendaraannya. Padahal, saat puncak panic buying pada hari Sabtu, ia harus mengantre hingga dua jam.
“Hari Sabtu saya antre itu panjang sampai ke jalan raya 50 meter. Saya antre dua jam waktu itu. Sekarang antre cuma lima menit sudah terisi tankinya. Alhamdulillah, dengan lancarnya pengisian BBM ini, masyarakat sudah tidak panik lagi karena bensin selalu ada, termasuk Pertalite ini,” ujar Rizky.
Senada dengan Rizky, Jagir, Pengawas SPBU Tamansari, membenarkan bahwa puncak kepanikan terjadi dalam empat hari terakhir. Pihaknya sempat memberlakukan pembatasan pembelian untuk mengantisipasi antrean semakin panjang dan mencegah aksi penimbunan.
“Saya batasi 300 ribu untuk kendaraan roda 4, untuk motor saya batasi 50 ribu. Itu untuk mengantisipasi, biar cepat,” jelas Jagir.
Jagir juga membantah adanya gangguan pasokan dari Pertamina. Justru, saat panic buying melanda, pihaknya mendapatkan tambahan kuota signifikan hingga 8 kilo liter per hari, atau meningkat 30-40 persen dari pasokan normal.
“Dan kita mau minta berapapun selalu dipenuhi oleh Pertamina. Dan sekarang ada tambahan, biasanya kita 16 KL per hari, sekarang ada tambahan 8 KL, ada penambahan 40% atau 30% dari Pertamina masih dipenuhi. Pertalite maupun Pertamax, maupun solar, semua produk,” jelasnya.
Meski situasi telah normal, Hiswana Migas tetap mengimbau masyarakat untuk tidak mengulangi perilaku panic buying di masa mendatang. Masyarakat diminta hanya membeli BBM seperlunya dan tidak perlu khawatir akan kelangkaan karena stok terjamin aman.
“Tentunya kami selalu mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Jadi belilah BBM seperlunya saja, tidak perlu memaksakan untuk antri ketika sisa yang ada di tangki masih banyak. Karena kalau kemudian memaksakan untuk antri, akan memperpanjang dan memperparah antrian,” imbaunya.
Lebih serius, Ikbal juga memperingatkan oknum-oknum yang mencoba mencari keuntungan pribadi dengan melakukan penimbunan BBM. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Bondowoso dan aparat penegak hukum lainnya untuk menindak tegas praktik penimbunan.
“Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak Polres, dengan pihak penegak hukum, untuk dilakukan tindakan tegas kepada oknum-oknum yang melakukan penimbunan untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.
Dengan jaminan ketersediaan stok dari Hiswana Migas, pengawasan dari DPRD, serta komitmen Pertamina dalam pengiriman, masyarakat Bondowoso diharapkan dapat beraktivitas dengan tenang tanpa dibayangi kekhawatiran akan kelangkaan BBM, terutama dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri. (awi/ian)






