Magetan (beritajatim.com) – Lalu lalang santri di kawasan Desa Temboro, Kecamatan Karas, Magetan, Jawa Timur, jadi daya tarik tersendiri ketika berkunjung, utamanya saat bulan Ramadan. Suasana lalu lalang santri berikut banyaknya penjual kuliner di jalan desa tersebut membuat salah satu jalan desa di Temboro itu disebut Kampung Madinah.
Banyak yang memanfaatkan keramaian santri dan para pengunjung di kampung Madinah, Desa Temboro, Karas. Salah satunya Azizah, santri Ponpes Al fatah Temboro. Dia memilih untuk berjualan es di sepanjang Jalan Temboro Taji.
[berita-terkait number=”5″ tag=”takjil”]
“Lumayan omsetnya bisa jutaan rupiah per harinya. Banyak sekali yang beli mulai dari kalangan santri dan warga sekitar. Juga pengunjung dari luar Magetan,” kata wanita bercadar itu, Jumat (8/4/2022)
Izah tak sendiri, dia dibantu oleh salah seorang rekannya. Mereka berdua berjualan mulai pukul 15.00 sampai bedug Maghrib. Mereka menjual es capucino cincau, es buah, dan juga es alpukat. Dalam waktu tak sampai tiga jam, dagangan mereka ludes tak bersisa. Berbeda dengan hari biasa yang perlu waktu berjam – jam.
“Kalau hari biasa kami berjualan mulai siang sampai sore, tapi habisnya bisa lebih dari dua jam. Karena jarang sekali peminatnya jika tidak saat Ramadhan,” ungkapnya.
Omzetnya juga lebih banyak saat Ramadan. Terhitung selisih hampir satu juta rupiah. Dengan hasil itu dia gunakan untuk keperluan hidup selama menimba ilmu di Temboro. Wanita asal Blora itu berawal saat diajak kawannya untuk berdagang. “Dan sudah kami lakukan sejak hampir dua tahun terakhir,” katanya.
Tak hanya Izah, ada juga Sulastri yang merupakan warga setempat. Kesehariannya menjual gorengan tak ditinggalkan saat Ramadan. Dia menyebut kalau tradisi Ngabuburit di sepanjang jalan Temboro Taji sudah sejak Ponpes Al Fatah memiliki ribuan santri. Banyak warga yang membuka lapak untuk meraup untung. “Dan sudah ramai bahkan sejak pukul 14.30,” katanya.
Uniknya, setelah Adzan Maghrib terdengar, bakal banyak toko yang langsung menutup lapak. Mereka yang berjualan makanan juga kukut. Dan buka lagi setelah Isya. Sebagian buka setelah Maghrib. Untuk para pedagang kaki lima, banyak yang memilih tutup sampai esok hari menjelang.
“Ada yang jualannya cuma saat menjelang Magrib saja. Macam macam jualannya mulai dari jajanan biasa, hingga jajanan kekinian. Minumannya juga bermacam-macam. yang jual buah juga banyak sekali,” katanya.
Ibu satu anak itu menyebut kalau bukan hanya santri saja yang memadati jalan. Tapi, juga warga-warga luar Magetan yang tertarik dengan suasana ngabuburit di Kampung Madinah. Bahkan, ada satu spot yang menarik yakni Jalan Madinah yang cukup terkenal. “Seolah mewakili Kampung Madinah, padahal ada juga jalan lain yang dinamai Jalan Mekah,” katanya. [fiq/suf]







