Malang (beritajatim.com) – CEO Cokelat Klasik Martalinda Basuki mengakui pandemi Covid-19 berdampak pada sektor industri kuliner yang dia tekuni. Dia terpaksa harus memutar otak agar bisnis yang dia tekuni tetap berjalan meski dihantam pandemi.
Wanita yang akrab disapa Lala ini kini memulai usahanya berjualan nasi rames dengan nama Superames. Produk ini baru saja dilaunching beberapa hari lalu. Menurutnya makanan khas Jawa Timur ini banyak diminati oleh pecinta kuliner karena rasanya yang khas.
“Ini brand baru yang kita ciptakan ditengah pandemi. Kalau soal Cokelat Klasik, nampaknya memang sudah tergerus zaman dan saya harus putar otak untuk produk baru ini,” kata Lala, Selasa, (1/2/2022).
Bercerita soal ide yang kini secara resmi telah diperkenalkan, muncul ketika Lala berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dia menghabiskan waktu 6 bulan untuk memulai bisnis nasi rames ini. Outlet Superames pertama di buka di Jakarta. Minatnya pun ternyata luar biasa.
“Selama 8 bulan saya di Jakarta merintis Superames ini dan kita kerjasama dengan empat orang. Kita ciptakan makanan harian kalau di Jawa biasa disebut nasi capur, tapi kita sesuaikan dengan konsep di Jakarta dengan nama nasi rames yang identik dengan kepedasannya,” ujar Lala.
Superames, lanjut Lala, saat ini telah memiliki 4 cabang yang dimana cabang keempat satu-satunya di Jawa Timur berada di Kota Malang. “Kalau yang cabang pertama hingga ketiga ada di Jakarta dan kita akan running sampai 8 cabang di Jabodetabek,” imbuhnya.
Selain itu, menariknya lagi Lala memperkenalkan cabai terpedas di dunia, yakni Carolina Reaper yang tersedia di seluruh cabang Superames dengan keadaan fresh dan ada juga yang berbentuk saus dalam kemasan kripik bernama Potato Chips.
Cabai asal Amerika tersebut memang sudah terkenal dengan super pedasnya. Di Superames sendiri dijual dengan harga Rp 15 ribu per biji dan bisa dijadikan sambal khas dengan berbagai macam lauk yang tersedia di Superames.
“Bisa kita sediakan ulekan untuk para konsumen yang ingin menikmatinya. Banyak lauk yang tersedia tinggal pilih dan di makan dengan sambal Carolina Reaper ini,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kota-malang”]
Perlu diketahui, tingkat kepedasan dari Carolina Reaper ini memang melebihi rata-rata. Jika cabai biasa memiliki tingkat kepedasan 50 ribu SHU, untuk Carolina Reaper ini bisa mencapai 2 juta SHU.
Sementara itu, salah satu pengunjung kafe yang sempat mencicipi Carolina Reaper secara fresh tanpa olahan, Hendra Saputra, merasakan hal diluar ekspetasi setelah mencoba cabai terpedas di dunia itu. Dia merasa awalnya sedikit manis dan tak terlalu pedas.
“Tapi lambat laun tiba-tiba pedasnta menusuk ke dinding atau langit-langit mulut saya. Itu luar biasa sensasinya. Apalagi di coba dengan lauk dan diulek sepertinya sangat istimewa. Jadi perlu di coba,” tandasnya. [luc/but]






