Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin Anda pernah merasa atau bahkan mengalami satu kelompok berisikan 6 orang tapi yang mengerjakan hanya satu orang. Itu bisa jadi salah satu tanda jika teman-teman Anda sedang mengalami social loafing.
Istilah social loafing merupakan sebuah fenomena yang menyebabkan penurunan motivasi dan effort seseorang dalam bekerja secara kelompok. Konsep ini muncul dalam
penelitian the rope-pulling yang pernah dilakukan oleh Max Ringelmann tahun 1913.
Pada penelitian itu terlihat jika usaha yang dikeluarkan oleh seseorang saat menarik tali secara berkelompok tidak sebesar ketika dilakukan sendirian. Berikut ini beberapa penyebab dari social loafing.
Kurang motivasi
Semakin rendah motivasi dari seseorang, maka akan semakin besar juga kemungkinan buat mengalami kondisi ini. Biasanya orang yang berpikiran instan akan sering merasakan kurangnya motivasinya sehingga malas untuk bekerja secara kelompok.
Ekspektasi tinggi
Penelitian menunjukkan, orang yang ekspektasinya rendah terhadap anggota kelompok cenderung bekerja lebih keras. Begitupun yang terjadi sebaliknya, seseorang yang punya ekspektasi tinggi cenderung bermalas-malasan dalam kerja kelompok.
Kerja kelompok terlalu banyak
Terlalu banyak anggota kelompok juga jadi penyebab seseorang malas-malasan saat bekerja dengan kelompok. Suatu studi menunjukkan, ada hubungan antara besarnya
kelompok dengan performa individu. Sehingga semakin sedikit anggota, makin semakin besar juga upaya yang mesti dikeluarkan.
Kurangnya kejelasan
Karena seseorang merasa kurang paham pada sesuatu yang hendak dikerjakan sehingga tidak bersemangat. Biasanya karena mereka tidak paham tujuan, motivasi, dan latar belakang pengerjaan jadi tidak tahu harus melakukan atau berkontribusi apa dalam kelompok.
Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi social loafing ini. Tahapan-tahapan berikut ini mungkin akan membantu. Pertama, bagi tugas secara adil lakukan ini agar semua mendapat tugas sesuai porsinya masing-masing sehingga tidak hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Kedua, bangun komunikasi yang baik antara anggota kelompok sehingga bisa saling paham tujuan.
Ketiga, tegas dengan aturan yang jelas terkait pembagian tugas dan deadline-nya. Keempat, beri apresiasi hasil kerja anggota kelompok. Kelima, evaluasi performa kelompok sehingga bisa makin baik kedepannya. (dan/ian)






