Surabaya (beritajatim.com) – Kebiasaan ngopi yang kian populer dinilai tidak selalu berdampak positif bagi kesehatan mental. Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Dr. Diah Sofiah menyebut konsumsi kafein dan budaya nongkrong di kafe bisa memperparah kecemasan jika dijadikan pelarian dari tekanan sehari-hari.
Diah menjelaskan kecemasan berbeda dengan rasa takut. Rasa takut memiliki objek yang jelas, sedangkan kecemasan muncul terhadap sesuatu yang tidak pasti. Ketidakjelasan inilah yang membuat kecemasan terasa lebih berat secara emosional. “Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik,” kata Diah, Jumat (23/1/2026).
Dalam psikologi, kecemasan dibedakan menjadi state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat situasional dan sementara, sedangkan trait anxiety berkaitan dengan kecenderungan kepribadian ketika seseorang lebih sering merasa terancam.
Kecemasan melibatkan aspek kognitif, fisiologis, dan perilaku. Individu dipenuhi kekhawatiran berlebihan dan pikiran tentang kemungkinan terburuk. Secara fisik, tubuh merespons melalui jantung berdebar dan ketegangan otot.
Dari sisi perilaku, kecemasan kerap mendorong penghindaran terhadap situasi tertentu. Pola ini memberi rasa lega sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah.
Menurut Diah, kecemasan pada tingkat tertentu bersifat adaptif karena dapat meningkatkan kewaspadaan. Namun, kecemasan yang berlebihan justru berpotensi mengganggu fungsi sehari-hari.
Ia menyoroti kebiasaan ngopi yang sering dijadikan mekanisme koping yang keliru. Banyak orang datang ke kafe bukan hanya untuk minum kopi, melainkan mencari distraksi dan rasa aman sesaat. “Penghindaran memang terasa menenangkan sementara, tetapi dalam jangka panjang justru memperkuat kecemasan,” ujarnya.
Diah juga mengingatkan bahwa DSM-5 mencatat kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal. Konsumsi kafein berlebihan dapat memicu gelisah, mengganggu tidur, dan memperburuk kecemasan. [ipl/kun]






