Surabaya (beritajatim.com) – Reputasi Old Firm Derby antara dua klub penguasa Liga Skotlandia, Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers tidak perlu diragukan lagi informasinya. Derby dua rival sekota yang dibalut dengan isu sektarianisme agama ini telah dikenal penggemar sepakbola di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Setiap menyimak atau mendengar Liga Skotlandia, yang akan terlintas pertama kali tentu rivalitas panas Celtic-Rangers. Maklum, kedua klub memiliki sejarah panjang perseteruan dengan basis kelompok suporter yang sama-sama besar, bahkan hingga luar Skotlandia. Namun mari sejenak kita kesampingkan dahulu Old Firm Derby.
Kita arahkan fokus ke sebuah kota bernama Dundee. Dundee, sebuah kota berjarak 65 Mil dari Glasgow rupanya juga memiliki sebuah rivalitas di dunia sepakbola. Sepakbola membuat Dundee terbagi kedalam dua warna kebesaran, yakni Oranye-Hitam dan Biru Kehitaman. Terdapat dua klub sepakbola di kota berpenduduk 148 Juta jiwa ini, Dundee FC dan Dundee United.
Musim ini, baik Dundee United dan Dundee FC sama-sama bermain di Scottish Premiership. Kasta teratas liga Skotlandia bersama dua klub Glasgow. Jika Old Firm Derby dibalut dengan isu sektarianisme agama, maka Dundee Derby bisa dikatakan lebih ramah. Dua klub ini bersaing untuk membuktikan siapa yang berhak dianggap sebagai simbol Kota Dundee melalui gelar juara.
Dundee FC berdiri pada 1893. Sedangkan Dundee United yang didirikan tahun 1909 sebelumnya bernama Dundee Hibernian setelah bubarnya Dundee Harp, klub sepakbola yang dibuat oleh para imigran asal Irlandia. Sebelum tahun 1970, Dundee FC menjadi klub tersukses di kota Dundee karena mampu mengangkat trofi liga dan Piala Skotlandia masing-masing satu kali. Barulah setelah tahun 70-an, dominasi itu diambil alih Dundee United.
Pada tahun 1980, Dundee United berhasil mempermalukan Dundee FC dikandang mereka sendiri, The Dens Park guna meraih gelar juara Piala Liga. Sementara itu, status juara liga tahun 1983 juga diraih Dundee United dikandang milik rival sekotanya itu. [adn/bj0]






