Magetan (beritajatim.com) – Bukan cuma bantuan yang diharapkan para seniman ludruk. Mereka juga ingin pemerintah segera memberikan ijin pentas. Kalau memang tak boleh secara langsung. Mereka ingin tampil secara virtual.
‘’Kami didanai untuk bisa tampil secara virtual. Seperti kesenian lain, baik elektone, dangdut, dan wayang kulit. Kami kan juga berusaha nguri–nguri budaya,’’ terang Eka Sanjaya, Ketua Ludruk Tobongan Suromenggolo.
Menurutnya, selain mereka bisa berkarya setidaknya ada pendapatan yang bisa mereka raup. Sehingga, bisa mereka bisa melanjutkan hidup. Karena saat ini tak ada pekerjaan yang bisa mereka garap selain menjadi seniman.
‘’Daripada nganggur, alat make up dan costum kan sudah siap. Kami tinggal dandan dan pentas seperti biasa sudah bisa. Tapi, kami terbentur kemampuan untuk mengoperasikan perangkat, kalau pemerintah mau bantu kami operasikan perangkat justru bagus,’’ terang Eka.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ludruk”]
Eka menyebut ada 50 orang anggota ludruk Tobongan, dan mereka adalah satu–satunya seniman ludruk yang aktif setiap hari pentas di Magetan sebelum pandemi melanda.
‘’Dari lima puluh orang ini bukan Cuma waranggana, tapi termasuk penabuh gamelan, penarik tiket, hingga petugas kebersihan,’’ kata Eka. [fiq/but]






