Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 38 ekor sapi di Kabupaten Ponogoro yang sempat terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dinyatakan sembuh. Angka ini masih sangat kecil dibandingkan jumlah sapi yang masih tertular.
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, mengungkapkan data per 21 Juni 2022, jumlah sapi yang terjangkit seluruhnya ada 6.824 ekor. Dari jumlah itu, sebanyak 182 ekor mati, 306 ekor dipotong paksa, 38 ekor sembuh.
Dari 21 kecamatan di Ponorogo, hanya ada dua kecamatan yang hingga kini belum ada kasus PMK. Keduanya yaitu Kecamatan Ngebel dan Kecamatan Ngrayun.
“Jumlah sapi terjangkit yang mendominasi adalah Kecamatan Pudak, yakni ada 4.745 ekor sudah terjangkit dengan angka kematian 182 dan dipotong bersyarat ada 306 ekor. Belum ada sapi yang sembuh,” kata Bupati Sugiri Sancoko, Rabu (22/6/2022).
Selain pengobatan medis, kata Sugiri pihaknya juga berusaha melakukan pengobatan alternatif menggunakan rempah-rempah tanaman toga dicampur dengan enzim, M4 atau bahan lainnya, yang kini hendak dilakukan pengkajian.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit-pmk”]
Untuk meningkatkan imun tubuh pada sapi, Kang Giri sapaan akrab Sugiri Sancoko menghimbau peternak untuk mengaplikasikan obat herbal.
“Semoga menjadi solusi alternatif untuk pemeliharaan sapi yang terkena PMK,” ungkapnya.
Terkait dengan kekurangan sumber daya manusia (SDM) terkait PMK ini, Sugiri mengabarkan kabar yang melegakan. Yakni dengan mendatangkan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), dimana sebagian merupakan mahasiswa kedokteran hewan.
“Mahasiswa IPB bisa ikut mendampingi dan melakukan penelitian kasus PMK. Sehingga datanya nanti bisa untuk penangan hewan yang terjangkit,” katanya. (end/beq)






