Blitar (beritajatim.com) – Proyek Jembatan Dawuhan di Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar akhirnya rampung dibangun. Jembatan senilai Rp7,4 Miliar rupiah itu pun telah diresmikan oleh Bupati Blitar, Rini Syarifah.
Meski pengerjaan proyek senilai Rp7,4 Miliar ini sempat mandek selama beberapa bulan akibat pihak diputus kontraknya oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar namun kini jembatan tersebut telah rampung dikerjakan. Kini Jembatan yang menghubungkan Dusun Midodaren, Kaliandong, Klangkapan dengan Desa Dawuhan tersebut telah bisa dilalui kendaraan.
“Dan hari ini, Jembatan Dawuhan sudah bisa dilewati kembali oleh masyarakat serta selain sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai simbol semangat gotong royong dan cinta kita terhadap daerah ini. Dengan peresmian ini, kita harapkan aksesibilitas akan meningkat, mobilitas masyarakat akan lebih lancar, dan perekonomian daerah akan kembali menggeliat,” ucap Bupati Blitar, Rini Syarifah, Sabtu (14/9/2024).
Jembatan Dawuhan ini dibangun usai bangunan lamanya diterjang banjir. Sehingga akses warga di beberapa dusun sekitar jembatan terganggu. Bahkan dengan tidak adanya jembatan ini warga terpaksa memutar untuk mencari jalan alternatif sejauh 10 Kilometer.
Melihat kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Blitar meminta bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan perbaikan jembatan Dawuhan. Dan kini setelah sekian lama jembatan yang memiliki panjang 33 meter dengan lebar 7 meter ini telah rampung dikerjakan dan sudah bisa dilewati oleh kendaraan warga.
“Seperti kita ketahui, Jembatan Dawuhan Kecamatan Kademangan mengalami kerusakan parah yang mengganggu akses dan mobilitas warga. Peristiwa ini bukan hanya menyebabkan keterbatasan fisik, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar,” ungkap perempuan nomor satu di Bumi Penataran tersebut.
Dengan terbangunnya jembatan senilai Rp.7,4 Miliar tersebut diharapkan bisa membantu akses warga dan perekonomian masyarakat bisa kembali normal. Warga pun kini tidak lagi perlu memutar jarak puluhan kilometer demi mencapai pusat kota atau kecamatan.
“Tidak dapat dipungkiri, proses pemulihan ini tidaklah mudah. Berbagai tantangan telah kita hadapi, mulai dari perencanaan, pendanaan, hingga pelaksanaan. Namun, berkat kerja keras dan sinergi antara pemerintah pusat, daerah dan masyarakat kita berhasil melewati semuanya,” tegasnya. (owi/ian)






