Malang (beritajatim.com) – Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa dan Sastra, Departemen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) menggelar acara Pesta Rakyat dengan pementasan drama musikal Lagu Cinta Sang Pencinta: Ken Arok dan Ken Dedes. Bertempat di Gedung Sasana Budaya pada Senin (11/11/2024) malam, acara ini menyuguhkan kisah cinta dan perjuangan Ken Arok dan Ken Dedes.
Pentas ini menggabungkan elemen teater dengan musik tradisional dan modern yang menarik antusiasme ratusan penonton, khususnya mahasiswa Sastra Indonesia. Devinna Anugrah, mahasiswa Ilmu Perpustakaan 2022 sekaligus ketua pelaksana, mengungkapkan bahwa pementasan ini merupakan kolaborasi antara Departemen Sastra Indonesia dan Himpunan Mahasiswa.
“Melalui drama musikal ini, kami berupaya menghidupkan kembali cerita klasik yang sarat dengan nilai budaya Indonesia. Lagu Cinta Sang Pencinta bertujuan untuk memperkuat eksistensi bahasa dan budaya Indonesia di tengah generasi muda,” ungkap Devinna, Selasa (12/11/2024).
Pementasan ini melibatkan mahasiswa dari angkatan 2021 hingga 2024 yang menjalani latihan intensif sejak awal Oktober. Di bawah arahan sutradara dan penulis naskah Dr. Sn. Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn., pertunjukan ini sukses menyuguhkan nuansa berbeda dari sendratari tahun sebelumnya dengan tambahan elemen musik yang digarap oleh Fandi, seorang dosen ahli.
“Kami ingin memberikan pengalaman yang lebih berkesan dengan kolaborasi musik modern dan tradisional,” jelas Devinna. Antusiasme penonton terlihat meningkat dibandingkan tahun lalu, menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap seni dan budaya lokal.
Mengusung tema “Revitalisasi Eksistensi Bahasa dan Sastra sebagai Identitas Bangsa bagi Generasi Muda,” acara ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan apresiasi seni bagi mahasiswa. Selain menjadi bagian dari perayaan Bulan Bahasa dan Sastra, Pesta Rakyat ini juga mendukung beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan.
Melalui pementasan budaya berbasis bahasa Indonesia, UM berupaya melestarikan identitas bangsa dan memperkuat nilai kebudayaan di kalangan generasi muda. Dr. Sn. Indra Suherjanto, S.Pd., M.Sn., sutradara pementasan, mengadaptasi cerita klasik dari kitab Pararaton yang mengisahkan legenda Kerajaan Singosari.
“Kami menyesuaikan naskah ke dalam Bahasa Indonesia agar lebih sesuai dengan konsep musikal dan menambahkan sentuhan puitis serta elemen drama,” ujar Indra. Indra juga mengungkapkan bahwa awalnya ia berniat membuat Ken Arok seperti tokoh mafia, tetapi tetap mempertahankan nuansa legenda dengan pendekatan yang lebih realistis.
Indra mengaku puas dengan hasil pementasan meskipun waktu persiapan cukup singkat, hanya sekitar dua bulan. “Dengan segala keterbatasan, termasuk pengalaman para aktor yang sebagian besar belum pernah berakting di panggung teater, pementasan ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses,” imbuh Indra.
Dwi Sulistyorini, produser pementasan sekaligus dosen di UM, menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah waktu yang singkat serta minimnya pengalaman para mahasiswa dalam drama. “Kami menyederhanakan naskah dan memperkuat elemen musik tradisional serta modern agar lebih menarik. Alhamdulillah, mahasiswa memainkan peran dengan baik, bahkan ada yang tampil sebagai dalang,” ungkap Dwi.
Salah satu penonton, Muhammad Ilham, menyatakan kekagumannya terhadap pementasan tahun ini yang menurutnya membawa nuansa baru dengan kombinasi musik modern dan tradisional. “Pesta Rakyat di UM selalu dinanti setiap tahun. Kolaborasi musik modern dan tradisional membuat acara ini semakin menarik, walaupun alur cerita terasa sedikit singkat,” ujarnya.
Keberhasilan pementasan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian SDGs seperti pendidikan berkualitas (SDG 4), inovasi dan infrastruktur (SDG 9), serta pelestarian budaya (SDG 11). Dengan melibatkan mahasiswa yang sebagian besar baru dalam dunia teater, acara ini menjadi sarana pengembangan diri dan kreativitas bagi para peserta, sekaligus memperkenalkan kembali kisah sejarah Ken Arok dan Ken Dedes sebagai warisan budaya Jawa Timur.
Dengan acara ini, Universitas Negeri Malang membuktikan komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan budaya nasional di tengah era modern. “Kami berharap kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa dan sastra Indonesia di kalangan generasi muda. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi UM untuk kemajuan budaya Indonesia,” tutup Devinna. (dan/kun)






