Surabaya (beritajatim.com) – Para remaja usia belasan tahun hingga dua puluhan biasanya senang menghabiskan malam dengan begadang. Meski tidak menimbulkan gejala tertentu, namun dampak dari kurang tidur ini mulai dirasakan ketika memasuki usia 30 tahunan.
Berikut beberapa efek kerap begadang sejak usia muda, di antaranya;
Pertumbuhan Tinggi Badan Tidak Optimal
Ketika seseorang beranjak remaja, tidur menjadi salah satu cara untuk menghasilkan lebih banyak hormon pertumbuhan. Hormon inilah yang berfungsi untuk meningkatkan tinggi badan.
Maka ketika masa-masa ini justru waktu tidur dirasa kurang, tak ayal jika pertumbuhan tinggi badan pun menjadi tidak optimal.
Mudah lupa
Efek lain dari kurang tidur juga bisa memicu turunnya memori atau daya ingat seseorang. Bahkan selain mudah lupa dngan suatu hal, sering begadang juga membuat seseorang menjadi kurang fokus.
Padahal ketika sedang tidur, sel-sel pada syaraf di neuron otak dapat membantu mengingat informasi baru yang telah dipelajari.
Perubahan Emosional
Kurangnya waktu tidur juga dapat mempengaruhi hormon kebahagiaan dalam tubuh. Maka jika sering begadang tak ayal kerap membuat mood menjadi buruk.
Perubahan emosional yang menyebabkan seseorang mudah marah, sensitif, bahkan hingga halusinasi ini tentu perlu dihindari. Salah satu caranya yakni dengan tidur yang cukup.
Microsleep
Gangguan microsleep atau di mana seseorang tiba-tiba menjadi mudah tertidur di manapun dan kapanpun. Bahkan hal ini bisa terjadi tanpa mereka sendiri sadari.
Hal ini tentu akan sangat berbahaya, terlebih jika terjadi ketika sedang beraktivitas. Misalnya sedang menyetir, olahraga, ujian, atau pun kerja.
Mudah terserang penyakit
Ketika sedang tidur, tubuh akan menghasilkan zat pelindung untuk melawan bakteri maupun virus. Sehingga dapat mencegah terjadinya peradangan hingga gangguan penyakit lainnya.
Tak ayal jika seseorang kerap begadang atau kurang tidur, ia akan mudah terserang berbagai jenis penyakit sampai cukup kronis.
Obesitas
Tidur dapat mempengaruhi dua hormon, yakni leptin dan ghrelin. Jika leptin berfungsi untuk memberitahu otak bahwa ia sudah kenyang, maka jika kurang tidur otak akan mengurangi produksi leptin.
Kondisi demikian akan meningkatkan hormon gerlin yang bisa menyebabkan timbulnya rasa lapar. Tak ayal jika hal ini membuat seseorang jadi ingin nyemil atau makan setiap saat. Hingga meningkatkan risiko obesitas. (fyi/ian)






