Surabaya (beritajatim.com) – Di samping kalender masehi, ternyata masyarakat Indonesia juga masih berpedoman pada kalender-kalender lokal dari berbagai etnis, suku, maupun kepercayaan di Indonesia.
Biasanya kalender-kalender lokal tersebut dipakai untuk penentuan hari-hari baik guna melangsungkan segala kegiatan manusia.
Kalender lokal ini juga dijadikan acuan hingga kini kerap kali dikaitkan dengan representasi identitas dan jati diri etnis tertentu.
Selain itu, kalender-kalender lokal ini juga berkaitan erat dengan kesakralan pada suatu momen tertentu. Berikut ini beberapa kalender lokal yang hingga saat ini masih digunakan sebagian masyarakat Indonesia.
Kalender Sunda
Kalender Sunda senyampang masih punya kemiripan dengan Kalender Masehi. Di kalender Sunda setiap bulan ada yang memiliki 29 dan 30 hari.
Urutan bulannya meliputi bulan Kartika, Margasira, Posya, Maga, Paliguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, serta Asuji.
Kalender Saka
Nama kalender Saka berasal dari India, tapi beberapa etnis di Indonesia masih ada yang memakai dan berpedoman pada kalender ini.
Sistem penanggalan menggunakan penggabungan antara penanggalan matahari dan bulan. Untuk penanggalannya dimulai pada sekitar tahun 78 Masehi.
Kalender Hijriah
Meski bukan masuk kategori kalender lokal etnis tertentu, namun kalender ini masih umum digunakan di Indonesia.
Biasanya kebanyakan dipakai para penganut agama Islam guna menentukan tanggal-tanggal penting dalam agama Islam.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kalender”]
Kalender Saka Bali
Kalender jenis ini umum dipakai oleh masyarakat Hindu yang ada di daerah Bali dan Lombok. Sistem penanggalan kalender ini tidak memiliki aturan baku.
Kalender Saka Bali memadukan posisi matahari dan bulan yang posisi perputarannya tidak selalu sama. Kalender jenis ini sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat lokal.
Kalender Jawa
Kalender ini memadukan antara budaya Islam, Hindu, Budha, Jawa, dan sentuhan budaya barat. Perhitungannya dengan memakai siklus mingguan dan siklus pekan pancawara.
Siklus mingguan terdiri dari tujuh hari, sedangkan dalam Kalender Jawa, siklus pancawara terdiri dari lima hari atau disebut dengan pasaran.
Kalender Batak
Kalender dari suku Batak ini terdiri dari 12 bulan dan setiap bulan terdapat 30 hari.. Biasanya lebih sering digunakan untuk tujuan “meramal” hari baik atau panjujuran dan kejadian alam.
Itulah beberapa kalender selain masehi yang masih banyak digunakan masyarakat Indonesia hingga saat ini. (dan/ian)






