Bernardo Tavares punya analogi yang bagus untuk pemain-pemain Persebaya: tukang pos. Ini bukan tukang pos dalam lagu ‘Surat Cinta’ yang ‘membawa berita yang didamba Vina Panduwinata. Tak ada kebahagiaan sama sekali saat pemain Persebaya memilih jadi ‘tukang pos’ di lapangan hijau.
Bermain di hadapan 23.431 penonton (jumlah penonton kandang Persebaya tertinggi ketiga setelah pertandingan melawan Persija dan Arema), Persebaya hanya bisa memetik satu angka dari Dewa United, Minggu (1/2/2026).
Sempat unggul melalui Francisco Rivera pada menit 23, gawang Ernando Ari dibobol Kafiatur Rizky pada menit 30. Harapan pendukung Persebaya di Gelora Bung Tomo sempat melambung, setelah Dewa United bermain dengan sepuluh orang sejak menit 37 karena Nick Kuipers diganjar kartu merah oleh wasit Nendi Rohaendi.
Namun keunggulan jumlah pemain justru gagal dimanfaatkan Persebaya. Statistik yang disajikan persebaya.id menunjukkan, selama 90 menit, 57 persen bola dikuasai Dewa United. Persebaya memang rajin melakukan tembakan ke gawang Sonny Stevens. Namun dari 11 kali tembakan, hanya dua tembakan yang akurat.
Pertandingan melawan Dewa United justru mengekspos kelemahan Persebaya saat lawan memilih bermain menunggu dan membangun lapisan pertahanan kuat, alih-alih ofensif. Bruno Moreira dan kawan-kawan seperti mati akal dan kehilangan daya kreativitas untuk mencari jalan keluar, ‘Banyak jalan menuju Roma’ hanya slogan kosong malam itu.
Aluran serangan dan transisi Persebaya dinilai Tavares sangat lamban. “Kami perlu memindahkan bola lebih cepat. Jangan jadi tukang pos, tapi kirim email, dulu kita pakai tukang pos untuk menyampaikan pesan, sekarang bisa pakai email, jauh lebih cepat,” katanya.
Hal ini sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa pertandingan sejak Persebaya ditangani Tavares. Selain kurang cepat, rendahnya akurasi operan pemain Persebaya menyebabkan serangan balik cepat yang diskenariokan Tavares ssering tersendat.
Saat melawan Dewa United, akurasi operan Persebaya hanya 76 persen, di bawah lawannya yang memiliki akurasi 86 persen. Saat menghadapi Malut United, akurasi operan Persebaya hanya 64 persen, jauh di bawah akurasi Malut (88 persen). Hal serupa juga terjadi saat menang 3-0 melawan PSIM (76 persen),
Orang cenderung melihat itu bukan problem selama Persebaya menang. Tapi akurasi operan adalah kunci taktik Tavares. Setelah bertahan dengan kokoh, maka serangan balik harus dilakukan dengan rapi dan cepat. Kecepatan di sini berarti kejelian melihat posisi pemain kawan dan nengirimkan bola, terutama diagonal dengan tepat. Tidak boleh lagi ada prunsip ‘asal sampai’ yang membuat penerima umpan bekerja keras.
Kegagalan mengoper dan menerima operan hanya akan memunculkan frustrasi. Beberapa kali kita melihat bola panjang diagonal antarsisi lapangan selalu berakhir dengan bola keluar garis atau diintersep lawan karena terlalu lemah.
Terlihat sederhana. Namun seperti kata Sun Tzu: Anda tak akan bisa menang jika satu ladam di kaki seekor kuda pasukan kavaleri bermasalah. Hanya satu ladam. Namun bisa menggagalkan semua rencana.
Atau dengan memelintir kata-kata Alan Hansen ‘You can’t win with the kids‘ saat menyindir Manchester United, Persebaya ‘can’t win with the postmen‘. Sekumpulan tukang pos tidak akan pernah bisa menjuarai liga. [wir]






