Sumenep (beritajatim.com) – Sekolah rakyat di Sumenep hingga saat ini masih sepi siswa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat telah berupaya menjaring calon siswa dengan berbagai cara. Mulai dari pendamping PKH, Kepala Desa, dan tokoh masyarakat, dilibatkan dalam menyisir calon siswa.
Namun upaya itu belum membuahkan hasil yang mengembirakan. Informasi di lapangan, salah satu alasan keberatan para orang tua calon siswa adalah lokasi sekolah yang jauh dari rumah.
“Kebanyakan orang tua calon siswa ini enggan karena lokasi sekolahnya jauh dari rumah. Ini terutama untuk calon siswa yang SD. Para orang tua masih ‘kepikiran’ kalau anaknya sekolah dan diasramakan jauh dari rumah,” kata salah satu pendamping PKH, Salam, Sabtu (19/07/2025).
Berdasarkan verifikasi yang dilakukan para pendamping PKH, usia sekolah yang masuk kriteria calon siswa sekolah rakyat di Sumenep tercatat sebanyak 18.370 anak.
Anak-anak yang memenuhi kriteria sebagai siswa di sekolah rakyat adalah anak usia sekolah yang masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil satu dan dua.
Desil satu merupakan kategori keluarga sangat miskin dengan pengeluaran per kapita/bulan < Rp 500.000. Sedangkan Desil dua merupakan kategori keluarga miskin dengan pengeluaran per kapita/bulan ± Rp 600.000 – Rp 700.000.
Untuk mengefektifkan penjaringan calon siswa di sekolah rakyat, saat ini Pemkab Sumenep juga mengerahkan seluruh camat, kepala desa. Bahkan para penyuluh agama di bawah Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep di 27 kecamatan juga dilibatkan dalam menyisir anak-anak sesuai data desil satu dan dua dari DTSEN. Namun saat ini informasinya Pemkab membuka pintu untuk calon siswa di luar DTSEN.
“Kalau berdasarkan regulasi, calon siswa Sekolah Rakyat memang harus berasal dari anak usia sekolah yang tercatat di DTSEN. Namun, kami tetap membuka peluang bagi anak usia sekolah yang tidak masuk dalam DTSEN, tetapi tergolong tidak mampu, untuk mengikuti proses asesmen sebagai calon siswa sekolah rakyat,” terang Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep, Mustangin.
Dinsos P3A Sumenep akan mengusulkan anak-anak usia sekolah yang memenuhi kriteria miskin tapi belum masuk dalam desil satu dan dua untuk dilakukan pengalihan desil oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep. Upaya ini diambil karena hingga saat ini, sekolah rakyat Sumenep masih sepi calon siswa.
Sekolah rakyat Sumenep akan menempati gedung Sarana Kegiatan Diklat (SKD) Batuan, sebelum gedung permanen sekolah rakyat di Desa Patean selesai dibangun. Di Desa Patean, sudah disiapkan lahan 10 hektar untuk gedung sekolah rakyat, lengkap dengan asramanya.
Rencananya, untuk sekolah rakyat di Sumenep akan dibuka dua jenjang pendidikan yakni SD dan SMP, masing-masing 50 siswa. Dengan demikian akan dijaring sebanyak 100 siswa di Sekolah Rakyat Sumenep. (tem/kun)






