Sumenep (beritajatim.com) – Program Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumenep hingga kini masih minim peminat. Berdasarkan data terbaru, hanya lima calon siswa yang mendaftar: dua orang untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan tiga orang untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Koordinator Kabupaten (Korkab) Program Keluarga Harapan (PKH) Sumenep, Baihaki, menyebut kelima calon siswa tersebut merupakan hasil asesmen pendamping PKH di lapangan dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai siswa Sekolah Rakyat.
“Kelima calon siswa itu dari hasil asesmen, telah memenuhi persyaratan sebagai siswa di sekolah rakyat, karena masuk dalam DTSEN desil satu dan dua,” kata Baihaki, Selasa (22/7/2025).
Namun demikian, sebagian dari mereka diketahui sudah tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dinas Pendidikan Sumenep, sehingga perlu proses administratif untuk dialihkan ke Sekolah Rakyat.
“Sampai saat ini para pendamping PKH masih melakukan penyisiran untuk mencari calon siswa lainnya, baik yang tercatat dalam DTSEN maupun yang belum terdata, tapi masuk kategori tidak mampu,” ujarnya.
Berdasarkan verifikasi pendamping PKH, terdapat sebanyak 18.370 anak usia sekolah di Sumenep yang masuk dalam kriteria calon siswa Sekolah Rakyat, yakni anak-anak dari keluarga yang termasuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil satu dan dua.
Desil satu merupakan kelompok keluarga sangat miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan kurang dari Rp500 ribu, sedangkan desil dua adalah kelompok miskin dengan pengeluaran sekitar Rp600 ribu–Rp700 ribu per bulan.
Untuk mempercepat penjaringan, Pemerintah Kabupaten Sumenep telah melibatkan seluruh camat, kepala desa, serta penyuluh agama di bawah naungan Kementerian Agama di 27 kecamatan. Mereka dikerahkan untuk menyisir anak-anak dari keluarga tidak mampu, baik yang sudah masuk DTSEN maupun yang belum.
Bahkan, saat ini Pemkab Sumenep membuka peluang bagi calon siswa dari luar DTSEN yang memenuhi kriteria miskin. Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep akan mengusulkan mereka agar dilakukan pengalihan desil oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep.
Upaya ini ditempuh karena hingga kini jumlah pendaftar masih jauh dari target. Sekolah Rakyat Sumenep direncanakan menampung 100 siswa pada tahap awal, masing-masing 50 siswa untuk jenjang SD dan SMP.
Sembari menunggu pembangunan gedung permanen di Desa Patean, yang berdiri di atas lahan seluas 10 hektar lengkap dengan asrama, operasional sekolah rakyat sementara akan menggunakan gedung Sarana Kegiatan Diklat (SKD) di Kecamatan Batuan. [tem/beq]






