Surabaya (beritajatim.com) – Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, tidak melewatkan kesempatan untuk menikmati suasana Kota Surabaya. Dia menyempatkan waktu untuk kulineran mencicipi sejumlah menu lokal di sela agenda konsolidasi partai sepanjang Rabu (9/11/2022) hingga Kamis (10/11/2022) dini hari.
Pada Rabu siang, Hasto mampir ke Viaduct by Gubeng, sebuah kafe dan barbershop yang digerakkan oleh warga kurang mampu binaan Pemkot Surabaya dan kerap disebut sebagai ‘Rumah Padat Karya’. Di sana, Hasto menikmati jahe hangat dan beragam jajanan tradisional, salah satunya pecel semanggi khas Surabaya.
Pecel semanggi diolah dari daun tanaman semanggi yang dikukus. Sayur ini dinikmati dengan paduan sambal, beragam sayuran lain, kerupuk puli (gendar) dari beras, serta bumbu berbasis ubi.
“Rasa pecel semanggi ini memang khas. Tidak ada di daerah lain. Enak sekali. Ini bukti betapa kayanya kuliner Nusantara. Beberapa kali ke Surabaya saya sudah menjajal rujak cingur, rawon, pecel semanggi, tahu campur Kalasan, hingga bebek goreng,” ujar Hasto.
Rabu malam usai memberikan arahan bersama 2.000 kader PDIP, Hasto mampir di warung kopi kawasan Jalan Embong Malang Surabaya. Di sana, Hasto bercengkerama dengan para kader PDIP tingkat kecamatan se-Surabaya.
Canda tawa tercipta, tak ada sekat di antara mereka.Hasto pun memesan kopi tarik hangat.
“Cuacanya pas. Seusai hujan tadi siang. Memang pasnya menikmati minuman hangat. Kopi tariknya pas rasanya,” ujar Hasto.
[berita-terkait number=”5″ tag=”PDIP Jatim”]
Kopi tarik yang dipesan Hasto memadukan kopi orisinal dan susu. Olahannya menerbitkan busa di permukaan minuman, menambah cita rasa saat menyesapnya. Sambil bercerita berbagai hal, mulai dari politik, film, potensi UMKM, hingga anekdot, tak terasa kopi tarik di cangkir putih yang dipegang Hasto pun tandas.
Selain kopi tarik, Hasto juga menikmati kerupuk ikan yang disajikan di warung tersebut. Kerenyahan dan rasa ikan yang terasa kuat rupanya menarik perhatian Hasto.
Di Surabaya, Hasto juga menjajal rawon setan yang legendaris dan tersohor. Kuahnya yang segar dan daging yang empuk, berpadu dengan kerupuk dan telur asin, membuat rawon khas Surabaya memang selalu dinanti penikmat kuliner.
“Kita harus bangga pada kekayaan kuliner nusantara. Bumbu-bumbunya khas, sangat unik sesuai karakter daerah. Bahkan, meski berasal dari satu jenis masakan, antardaerah itu beda cara masak dan penyajiannya. Rasanya pun bisa beda di tiap daerah, meski itu satu jenis masakan yang sama,” ujarnya.
Dengan kesadaran itulah, lanjut Hasto, Bung Karno menginstruksikan adanya dokumentasi resep makanan Nusantara dalam buku Mustika Rasa. Buku setebal lebih dari 1.000 halaman itu berisi resep makanan Nusantara dari berbagai penjuru Tanah Air, terbit pada 1967.
“Bung Karno sejak dulu sudah memiliki kesadaran sejarah dan kesadaran budaya, bahwa kekayaan rempah Indonesia bisa menghasilkan kekayaan kuliner yang sangat beragam. Di mana sektor kuliner ini kemudian sangat dahsyat menggerakkan ekonomi lokal, menumbuhkan sentra ekonomi lewat warung, depot, rumah makan, restoran, kafe, warung kopi, dan sebagainya,” pungkasnya. [tok/beq]







