Buku When the Circus Leaves Town: What Happens When Football Leaves Home bercerita tentang dampak perpindahan stadion yang menjadi kandang sebuah klub.Ada banyak pertanyaan yang muncul.
Stadion di Inggris mengalami revolusi besar-besaran pasca tragedi Hillsborough. Pemerintah Inggris mengharuskan semua stadion berkursi (all seater stadia) dan tak ada lagi tribun berdiri atau terrace stands. Tercatat lebih dari 30 klub memutuskan untuk membangun ke stadion baru dan meninggalkan markas lama mereka.
Dave Proudlove menelusuri relokasi kandang klub sepak bola sejumlah kota di Inggris untuk menjawab sederet pertanyaan, seperti apa yang terjadi jika sebuah klub sepak bola meninggalkan kandangnya selama ini, bagaimana sepak bola terhubung dengan lanskap baru yang dituju klub itu, apa yang terjadi dengan stadion lama.
BACA JUGA:
Sebuah Buku yang Mengungkap Musuh Sepak Bola
Dua klub terkenal yang meninggalkan markas legendaris mereka adalah Manchester City dan Arsenal. City meninggalkan Maine Road menuju Ettihad Stadium, dan Arsenal mengucapkan selamat tinggal kepada Highbury dan bergeser ke Emirates Stadium. Kebetulan dua stadion baru itu dibangun investor Arab.
Sejumlah klub yang dikunjungi Proudlove adalah Sunderland, Middlesbrough, Hull City, Scunthorpe United, Doncaster Rovers, Huddersfield Town, Bolton Wanderers, Manchester City, Shrewsbury Town, Walsall, Derby County, Leicester City, Coventry City, Bristol Rovers, Southampton, Brighton and Hove Albion, Reading, Barnet, Arsenal, West Ham United, Millwall, Wimbledon, Newport County, Cardiff City, dan Swansea City.
BACA JUGA
Bonek Writers Forum Terbitkan Buku Dinamika Pembinaan
Proudlove mewawancarai ofisial klub, pengembang, politisi, hingga fans yang memahami latar belakang relokasi kandang tersebut. Dari sini pembaca diajak menyelami dampak-dampak seperti gangguan terhadap rutinitas pertandingan, maupun terhapusnya nostalgia dan kenangan yang susah untuk diperbaiki.
Hasilnya, melalui buku ini, Proudlove berhasil menunjukkan kepada kita betapa pentingnya sebuah stadion sepak bola di sebuah kota. Di sini ruang publik terbangun dan komunikasi antarwarga tercipta. Stadion menggerakkan perekonomian dan menjadi teater bagi kaum pekerja. Buku ini tak hanya bercerita soal stadion, tapi juga dampak emosional, dampak sosial, dampak lingkungan, dan tentu saja dampak ekonominya.
BACA JUGA
Sekilas Buku Sepak Bola ‘The Immortals’ Karya Pelatih AC Milan
Indonesia seharusnya cukup menantang untuk dijadikan lahan penelitian topik serupa. Sejumlah klub telah berpindah markas seperti Persebaya dari Gelora 10 Nopember ke Gelora Bung Tomo, Persib Bandung dari Siliwangi ke Gelora Bandung Lautan Api, PSM Makassar dari Mattoanging ke Stadion BJ Habibie yang terletak jauh di luar Makassar.
Paling menarik tentu saja kasus Persija yang sampai saat ini kesulitan memakai Jakarta International Stadium dan harus menjadi musafir. Jika saja Proudlove melakukan risetnya di Indonesia, bisa dipastikan Erick Thohir dan Anies Baswedan bakal menjadi narasumber yang dinantikan pernyataannya. [wir]






