Ringkasan Berita
- Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang memasuki usia dua abad dengan sejarah panjang yang bermula dari perjuangan prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa tahun 1825.
- Tambakberas menjadi salah satu pusat lahirnya ulama besar Indonesia, termasuk KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU), serta memiliki hubungan sejarah dengan KH Hasyim Asy’ari.
- Memasuki abad ketiga, Tambakberas bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada 2026 dengan membawa semangat “Mewariskan Daya Juang, Berkhidmah Membangun Peradaban”.
Jombang (beritajatim.com) — Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Kabupaten Jombang yang sudah berusia dua abad membawa sejarah panjang perjuangan, pendidikan, dan pengabdian bagi bangsa Indonesia. Pesantren yang berdiri pada 1825, bertepatan dengan pecahnya Perang Diponegoro, kini memasuki abad ketiga sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.
Awal mula berdirinya PPBU Tambakberas tidak dapat dilepaskan dari sosok KH Abdussalam, seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang dipercaya membangun basis perjuangan di wilayah timur Pulau Jawa. Dari sebuah kawasan yang dahulu berupa hutan, KH Abdussalam atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Shihah membangun padepokan yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam.
Pada masa awal berdiri, pesantren tersebut hanya memiliki 25 santri sehingga dikenal masyarakat sebagai Pondok Selawe. Meski sederhana, tempat itu menjadi pusat pembinaan spiritual dan perjuangan. Para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan agama, tetapi juga ditempa dengan semangat perjuangan menghadapi penjajahan.
Dalam buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI, H Abdul Mun’im DZ menjelaskan bahwa sebelum Perang Jawa berlangsung sekitar 1824 hingga 1825, Pangeran Diponegoro menugaskan sejumlah komandannya untuk membangun basis perlawanan di berbagai wilayah Jawa. Salah satu tokoh yang mendapat tugas tersebut adalah Kiai Abdussalam untuk wilayah timur.
Membuka Hutang Gedang
KH Abdussalam memiliki garis keturunan dari Pangeran Benowo, putra Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Ketika perang berkecamuk, kawasan yang kini dikenal sebagai Tambakberas menjadi tempat persembunyian sekaligus padepokan bagi para prajurit.
“Di kawasan hutan Gedang, Mbah Shihah mulai membuka wilayah tersebut menjadi tempat bermukim. Markas perjuangan itu dilengkapi pendapa, langar/masjid, serta asrama untuk para prajurit dan santri,” tulis Abdul Mun’im DZ dalam buku yang diterbitkan pada 2024 itu.
Selain mengajarkan ilmu agama, KH Abdussalam juga membangun karakter para pengikutnya dengan semangat perjuangan. Salah satu kisah yang melekat adalah ketika pasukan Belanda berusaha mengepung Pondok Selawe.
Dalam situasi tersebut, Kiai Abdussalam mengeluarkan suara keras yang membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Peristiwa itu kemudian membuatnya dikenal sebagai Kiai Shihah atau Mbah Geledek.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Makassar, perjuangan Kiai Shihah terus berlanjut. Ia memperkuat perlawanan melalui jalur pendidikan pesantren dengan menampung para prajurit Diponegoro dari berbagai daerah.
Tokoh Pendiri NU
Di antara para pengikut Kiai Abdussalam terdapat dua tokoh yang kemudian menjadi penerus perjuangan, yakni Utsman dan M Said. Keduanya dinikahkan dengan putri Kiai Abdussalam. Utsman menikah dengan Layinah, sedangkan M Said menikah dengan Fatimah.
Dari garis keturunan tersebut lahir dua tokoh besar dalam sejarah Islam Indonesia. Dari perkawinan Utsman dan Layinah lahir keturunan yang kemudian melahirkan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Sementara dari perkawinan M Said dan Fatimah lahirlah Hasbullah. Dari pernikahan Hasbullah dengan Nyai Lathifah lahir KH Abdul Wahab Hasbullah, ulama besar yang menjadi salah satu tokoh utama dalam berdirinya Nahdlatul Ulama.
“Hubungan sejarah tersebut menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah memiliki ikatan keluarga sebagai saudara satu buyut, yakni sama-sama cicit dari Kiai Abdussalam,” lanjut mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU ini.
Seiring bertambahnya jumlah santri, pesantren di Gedang Jero tidak lagi mampu menampung seluruh santri. Kondisi tersebut mendorong para penerus Kiai Abdussalam mendirikan pesantren baru di beberapa wilayah, seperti Gedang Jobo dan Gedang Kulon.
Dari Gedang Menjadi Pesantren Tambakberas

Dari Gedang Kulon inilah cikal bakal Pondok Pesantren Tambakberas berkembang. Setelah wafatnya Kiai Shihah, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh Kiai Said, kemudian dilanjutkan oleh putranya, Kiai Hasbullah. Di bawah kepemimpinannya, berbagai pesantren tersebut kemudian disatukan menjadi Pondok Pesantren Tambakberas.
Perjalanan Tambakberas semakin dikenal luas ketika KH Abdul Wahab Hasbullah tampil sebagai tokoh nasional. Selain menjadi pengasuh pesantren, Kiai Wahab juga berkiprah dalam gerakan kebangsaan dan menjadi salah satu inisiator, pendiri, serta penggerak Nahdlatul Ulama.
Kini, setelah melewati perjalanan selama 200 tahun, PPBU Tambakberas terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang mencetak generasi penerus bangsa. Peringatan dua abad Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang digelar dengan berbagai rangkaian kegiatan yang melibatkan ribuan santri, alumni, dan masyarakat umum.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak awal September hingga puncak acara pada 25 Oktober 2025 tersebut meliputi liga sepak bola santri, pengajian, seminar nasional, bedah buku, konser kebangsaan, pameran UMKM pesantren, hingga Multaqo Santri Nusantara.
Muktamar ke-35 NU

Memasuki abad ketiga, PPBU Tambakberas kembali mendapatkan amanah besar setelah ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.
Dengan mengusung motto ‘Mewariskan Daya Juang, Berkhidmah Membangun Peradaban’, Tambakberas berkomitmen meneruskan perjuangan para muassis pesantren melalui pengabdian di Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas.
Persiapan sebagai tuan rumah muktamar dilakukan dengan berbagai dukungan, mulai dari akses transportasi darat dan udara, kesiapan venue acara, penginapan peserta, fasilitas parkir, jaringan informasi, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq menegaskan kesiapan Tambakberas untuk menjadi tuan rumah yang optimal.
“Banyak lagi fasilitas pendukung lainnya, membuat Tambakberas sangat layak sebagai tuan rumah muktamar. Kami akan all out menjadi tuan rumah yang baik. Semuanya sudah kita siapkan,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq.
Dua abad perjalanan Tambakberas menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang lahirnya perjuangan, kepemimpinan, dan kontribusi besar bagi bangsa. Dari Pondok Selawe yang sederhana, Tambakberas kini berdiri sebagai salah satu simbol keberlanjutan peradaban Islam Nusantara. [suf]






