Ngawi (beritajatim.com) – Jumlah kunjungan Museum Trinil, salah satu situs arkeologi paling penting di Indonesia, mengalami penurunan yang signifikan. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Ngawi hingga akhir Juli 2024, Museum Trinil hanya dikunjungi 13 ribu orang, jauh di bawah jumlah pengunjung di periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 29 ribu pengunjung.
Fosil manusia purba, khususnya Pithecanthropus erectus atau Java Man, yang ditemukan di kawasan Trinil telah membuat situs ini terkenal di dunia. Namun, potensi wisata edukasi yang besar belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Koordinator Museum dan Budaya Dikbud Kabupaten Ngawi, Daud Salempang, mengungkapkan pihaknya telah berupaya meningkatkan minat pengunjung. Salah satunya dengan mengajak sekolah-sekolah untuk melakukan study tour.
“Kami berharap Museum Trinil dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik, terutama bagi generasi muda,” ujarnya, Kamis (12/9/2024).
Koleksi fosil yang dimiliki Museum Trinil sangat beragam, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga alat-alat batu zaman prasejarah. Meski demikian, beberapa fosil penting seperti tengkorak atau Pithecanthropus erectus disimpan di museum lain.
Upaya pelestarian situs Trinil terus dilakukan, termasuk kegiatan penggalian secara berkala di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Pemerintah juga memberikan dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan museum. [fiq/beq]






