Surabaya (beritajatim.com) – Pasangan suami istri, Anshar dan Nia memulai perjalanan usaha kulinernya dari dapur rumah yang sangat sederhana. Tahun 2020, dengan nama KANG Kitchen, olahan rasa mereka mulai dikenal lewat layanan open PO yang setiap minggunya menawarkan belasan menu rumahan favorit.
Masakan penuh rasa dan kenangan, membuatnya cepat akrab di kalangan ibu-ibu Surabaya dan sekitarnya. Mulai menu Lodeh Ndeso, Soto Banjar dan Nasi Kuning Banjar.
Kini, di tahun 2025 saat launching pada 28 Juni kemarin, perjalanan itu tumbuh menjadi KANG 1981. Sebuah ruang kuliner bernuansa nostalgia di Jalan Lontar nomor 1 Surabaya Barat, yang buka mulai pukul 07.00 pagi dan tutup pukul 20.00 malam.
“Tempat ini menyajikan kembali menu-menu andalan dalam suasana yang lebih dekat dan hangat bagi mereka yang ingin nostalgia dengan menu-menu KANG Kitchen dulu,” kata Anshar kepada beritajatim.com, Minggu (6/7/2025).
Kini, menu di KANG 1981 makin beragam. Selain andalannya di Lodeh Ndeso, Nasi Kuning Banjar dan Soto Banjar, kini juga ada Mihun Jadul, Ketupat Kandangan, Nasi Rawon, Nasi Lidah Lombok Ijo, Nasi Oseng Mercon, Nasi Paru Pedas, Bingka Kentang, Kue Lupis, Kue Apem, Untuk Untuk, Getas, Martabak Madura dan Pisang Goreng. Harga makanan mulai kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 75 ribu.
Tak sekadar tempat makan, menurut lelaki berdarah Banjar ini, KANG 1981 juga menghadirkan pengalaman ngopi yang serius lewat kolaborasi dengan Koeslans Coffee Roastery dari Solo. Ternyata di balik racikan kopinya, ada tangan dingin Wisnu Aji. Wisnu Aji merupakan Juara 1 Indonesia Coffee Roasting Championship 2022 dan Juara 3 World Coffee Roasting Championship 2022, Milan.
Beberapa minuman kopi dengan aneka rasa siap menemani pagi, siang, sore dan malam anda di KANG 1981. Ada special cold brew diberi nama Rujak Lontar, P.O.P, Don’t Go Mango, Raspberry P.O.P, Strawberry Candy, Berry Holy, Anggur Merah, Kopi Datuk dan Kopi Susu.
“KANG 1981 adalah cerita tentang rasa yang tumbuh dari rumah, bertemu dengan kopi yang diracik dengan sepenuh hati. Sebuah tempat untuk kembali, karena rasa adalah tradisi,” pungkasnya. [tok/aje]









