Lamongan (beritajatim.com) – Salah satu sekolah dasar di Kabupaten Lamongan ternyata masih menyimpan dan merawat dengan baik bangku sekolah peninggalan zaman Belanda.
Bangku-bangku berbagan kayu jati yang sarat akan nilai sejarah tersebut berada di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banyubang, Kecamatan Solokuro.
Bukan sekedar disimpan dan dirawat dengan baik, bangku-bangku tersebut juga masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar setiap hari. Jumlahnya 20 bangku.
Bangku tersebut memiliki desain yang terbilang unik. Di mana meja dan kursi dijadikan satu atau digendeng. Kursinya berbentuk memanjang yang bisa ditempati dua siswa.
Sementara bentuk permukaan meja, bagian ujung depan sekitar 10 sentimeter dibuat datar dan diberi cekungan untuk meletakkan alat tulis. Kemudian bidang permukaan meja yang lebuh luas dibuat agak miiring ke arah siswa duduk, agar posisinya bisa lebih nyaman ketika menulis ataupun membaca.
Menurut salah satu guru SDN Banyubang, Sugeng Hariadi, berdasarkan data dokumen yang tertulis di daun pintu lemari yang juga peninggalan belanda, bangku-bangku tersebut dibuat pada tahun 1918.
“Kalau saya sendiri secara pribadi sebenarnya masih kurang jelas. Karena data-data, dokumen sudah tidak ada, seperti dokumen pendirian dan sebagainya. Data yang ada hanya yang tertulis di daun pintu lemari. Itu yang masih kita percayai di situ,” kata Sugeng, Rabu (9/10/2024).

Meski telah berusia ratusan tahun, namun bangku-bangku ini masih terlihat kokoh dan masih sangat layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Hal tersebut tak lepas dari upaya pihak sekolah yang rajin merawat bangku-bangku tersebut, agar benda-benda bersejarah itu tetap terjaga kelestariannya.
“Kami sendiri memperbaiki bagian-bagian yang rusak atau bagian yang sudah dirusak oleh siswa-siswa terdahulu. Seperti guratan-guratan di atas meja, itu sudah saya tutup pakai plamir, sehingga permukaannya kembali rata dan halus,” tuturnya.
Lebih lanjut Sugeng menjelaskan, berdasarkan cerita rakyat sekitar, SDN Banyubang dulunya masih menjadi sekolah rakyat dan hanya memiliki tiga kelas.
Pada awal berdirinya, SDN Banyubang menjadi tempat belajar anak-anak dari berbagai desa sekitar Banyubang, karena belum ada sekolah lain.
“Di tahun 1918, saat didirikan itu ada kelas 1 sampai kelas 3. Baru tahun 1956, ada kelas 4,5 dan 6. Kemudian baru ketika ada inpres dari Presiden, sekolah SD didirikan, yang kemudian disebut SD inpres. Untuk SD Banyubang ini disebut SD induk,” ujarnya. (fak/but)






