Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akhirnya merespons keluhan para pengusaha kafe dan resto di kawasan wisata ikonik Tunjungan Romansa. Pada Rabu (20/8/2025), Pemkot berencana menambah beberapa titik lahan parkir baru di sekitar Jalan Tunjungan untuk mengatasi dampak dari larangan parkir di Tepi Jalan Umum (TJU) yang memicu penurunan omzet hingga 50 persen.
Kepala UPTD Parkir TJU Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya, Jeane Mariane Taroreh, menyebut ada sejumlah titik potensial yang akan difungsikan sebagai kantong parkir tambahan. Salah satunya berada di Jalan Genteng Besar.
“Untuk lokasinya di Jalan Genteng Besar. Potensi parkir untuk kendaraan roda empat cukup banyak dan akan didata ulang untuk kapasitasnya,” jelas Jeane.
Selain itu, Pemkot juga menyiapkan lahan parkir roda dua dan roda empat di sekitar toko aksesoris Mumusu serta di dalam sebuah gang yang terletak di seberang kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Saat ini, Dishub mencatat kapasitas parkir resmi di kawasan Tunjungan mencapai 490 unit untuk kendaraan roda empat dan 2.250 unit untuk roda dua, tersebar di enam titik. Namun Jeane menilai penambahan lokasi baru tetap diperlukan untuk menampung lonjakan pengunjung.
“Data kapasitas yang ada masih bisa berkembang karena ada beberapa lokasi yang belum masuk dalam pendataan,” tambahnya.
Sebelumnya, puluhan pemilik usaha kafe dan resto di Tunjungan melakukan aksi protes dengan memasang poster bertuliskan “Save Tunjungan” dan “Satu Tujuan, Satu Tunjungan”. Mereka juga memadamkan lampu pertokoan selama satu jam penuh sebagai simbol kegelapan usaha mereka akibat kebijakan larangan parkir TJU.
Poster-poster berbingkai hitam dan kuning itu berdiri berjajar di sepanjang jalan, seolah menjadi seruan darurat bagi Pemkot agar segera memberikan solusi nyata.
Novia, Marketing Ludic Cafe Tunjungan, mengatakan penurunan omzet sudah terjadi sejak larangan parkir diberlakukan pada 15 Juli lalu.
“Kalau weekend, omzet turun sekitar 30 persen. Tapi kalau weekday hampir 50 persen. Kursi-kursi kosong ini bukti nyata bahwa bisnis kami sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya.
Setidaknya 20 pemilik usaha kafe dan resto di kawasan tersebut menyuarakan keluhan serupa. Mereka berharap protes damai yang dilakukan bisa membuka mata pemerintah.
“Harapan kami, Pemkot melihat poster-poster ini. Itu jeritan hati kami,” tambah Novia.
Keluhan senada disampaikan Maria, kasir Alltime Buns Tunjungan. Ia menyebutkan bukan hanya soal kerugian omzet, tetapi juga pengalaman pelanggan yang terganggu.
“Parkir motor terdekat sering penuh, mobil-mobil juga susah cari tempat parkir. Pelanggan banyak mengeluh, ‘parkirku jauh’. Itu membuat mereka enggan datang lagi,” ujarnya.
Dengan adanya rencana penambahan kantong parkir, para pengusaha berharap langkah Pemkot bisa segera direalisasikan. Solusi tersebut dinilai penting untuk menyelamatkan geliat ekonomi dan menjaga semangat Tunjungan Romansa sebagai ikon wisata Surabaya. [ram/beq]






