Mojokerto (beritajatim.com) – Tak banyak yang tahu, Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini memiliki kerajinan sarung tenun. Hanya ada satu warga Dusun/Desa Cinandang yang melestarikan kerajinan tradisional tersebut. Namanya Kani.
Perempuan 49 tahun ini memang bukan warga Mojokerto, namun ia bersuami warga Dusun Cinandang, Desa Cinandang. Sehingga saat ini ia berdomisili di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gresik tersebut.
Sekitar empat tahun lalu, ia menekuni kerajinan sarung tenun yang ia warisi dari daerah asalnya yakni di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Meski mengaku hanya belajar satu minggu, namun saat ini ia sudah mampu membuat empat motif sarung tenun.
BACA JUGA:
Berdiri Sejak 1986, Ini Satu-satunya Kerajinan Sarung Tenun Ikat di Kota Mojokerto
“Belajar satu minggu di Gresik karena pindah ke sini, sekitar 4 tahun lalu saya bikin di sini. Di sana (Benjeng, red), semua warga baik laki-laki, perempuan bikin kain tenun. Turun temurun, kalau di sini hanya saya yang bisa. Anak saya enam, laki-laki semua, nggak ada yang bisa,” ungkapnya, Jumat (5/5/2023).
Dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang ia pesan langsung dari Gresik, ia mengerjakan sarung tenun di rumahnya. ATBM tersebut diletakan di teras rumahnya, setiap hari jari-jari tangan dan kakinya tak berhenti memintal benang untuk dijadikan kain tenun.
“Satu hari, satu kain ukuran 4 meter. Tidak ada motif khas sendiri. Motif yang sesuai yang sudah ada, kalau saya bisa empat motif. Motif Lamiri, motif BHS Tex, motif Donggala, motif 210. Harga tergantung bahan yang diminta, sutra asli ya mahal. Kalau motif tergantung pemesan,” katanya.
BACA JUGA:
Perajin Tenun Ikat Mojokerto Kewalahan Pesanan
Ia membuat sarung tenun dengan motif dan bahan sesuai pesanan. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp350 ribu sampai Rp750 ribu. Kani mengaku tak kesulitan memasarkan produk kerajinannya, lantaran sudah ada pemesan yang datang ke tempatnya langsung.
“Harganya beda, tergantung bahan yang digunakan, sutra mahal. Bahan minta sutra asli atau dicampur, motif sesuai permintaan pelanggan. Iya ada yang ambil, dari Madura, luar Jawa. Motif Lamiri ada yang minta dari Sumatra bahkan sampai Arab,” ujarnya.
Selain tidak kesulitan dalam pemasaran, Kani juga mengaku tidak kesulitan dalam hal menemukan bahan dasar. Karena semua ia ambil dari tanah kelahirannya di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Namun dari enam orang anaknya, tidak ada yang mewarisi keahliannya dalam menekuni kerajian sarung tenun.
BACA JUGA:
Berkah Ramadan, Kerajinan Sarung Tenun Tradisional Gresik Laris Manis
“Tidak ada yang bisa hanya saya, anak saya enam semua cowok, tidak ada yang bisa. Tidak susah, bahan saya ambil dari Gresik. Alat ini juga pesen dari tukang dari Gresik, di sini nggak ada. Kalau rata-rata sebulan penuh ada 5 kodi sarung tenun,” jelasnya.
Namun jika ramai pesanan, ia mengaku akan menghubungi perajin sarung tenun di tempat asalnya. Karena dalam sehari, ia hanya mampu menghasilkan sarung tenun dengan ukuran 4 meter. [tin/suf]
![Satu-satunya Perajin Sarung Tenun di Desa Cinandang Mojokerto Itu Bernama Kani Perajin sarung tenun Kani (49) saat melakukan aktivitas pembuatan kain tenun di depan rumahnya di Dusun Cinandang, Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/05/IMG-20230505-WA0019_7rGjfnJ98G-1024x576.jpeg)





