Mojokerto (beritajatim.com) – Budi Iswanto merupakan satu-satunya perajin kain tenun yang ada di Kabupaten Mojokerto. Seiring mulai dikenalnya hasil kerajiman pria 38 tahun ini, ia pun mulai mengembangkan kain tenun dengan motif khas Majapahit. Seperti lambang Surya Majapahit.
Motif tersebut diperkenalkan saat event MajaFest 2022 yang digelar Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto pada, 23-27 Agustus 2022 lalu. Hasilnya ada dua warna yang dihasil dengan mengambil motif Surya Majapahit yakni merah dan biru.
Motif kain tenun yang baru dihasilkan suami Rina Hidayati (37) ini dibeli Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto, Iwan Abdillah dan istri Wakil Bupati Mojokerto, Shofiya Hanak Al Barra. Saat ini, ia berencana mengembangkan motif Majapahit tersebut.
[berita-terkait number=”5″ tag=”batik-tenun”]
“Masih belum sempurna, hasil gambar Surya Majapahit nya terlihat gepeng. Tapi sudah tidak ada karena kemarin di beli Kepala Disperindag 2 lembar sama istrinya Wabup 10 meter. Membuat motif ini memang agak susah, beda kalau untuk batik,” ungkapnya, Jumat (2/9/2022).
Sehingga, masih kata bapak dua anak ini, ia berencana menyempurnakan motif Surya Majapahit tersebut. Tidak hanya motif Surya Majapahit, pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun Ikat RH Lestari di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal ini juga akan membuat motif lain.
“Iya mungkin gapura Majapahit, candi yang menunjukkan ciri khas Mojokerto. Karena di Mojokerto ada Kerajaan Majapahit jadi kami ingin menonjolkan itu sehingga motif kain tenun berbeda dengan motif kain tenun dari daerah lain. Mengadopsi seperti batik, jadi ada ciri khas,” katanya.
Untuk memenuhi pesanan kain tenun, Budi masih menggunakan alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu atau kerap disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sehingga industri rumahan dengan dua karyawan ini riuh dengan suara alat tenun tradisional.
“Iya saya masih pakai ATBM karena untuk melestarikan tradisi, selain juga saya mengajukan ke Disperindag untuk alat yang lebih modern yang pakai dinamo karena rencananya saya juga mau nambah karyawan. ATBM saya di rumah hanya ada dua,” ujarnya.
Dua karyawan mengerjakan kain tenun di rumahnya, sementara ada tiga karyawan lain yang merupakan ibu-ibu sekitar membawa benang untuk dipintal di rumah. Ia juga memberikan pelatihan mandiri kepada IKM di Kabupaten Mojokerto.
“Dari situ, mereka yang sudah saya ajari rencananya akan saya rekrut untuk jadi karyawan. Karena inginnya mengembangkan usaha warisan dari mertua ini dan mengembangkan dengan motif Majapahit untuk memberikan ciri khas di kain tenun saya,” ujarnya.
Budi menjelaskan, moment MajaFest 2022 lalu sudah terjual 140 lembar. Selama tiga bulan, ia mempersiapkan pesanan kain tenun yang akan digunakan saat mement yang mengabungkan wisata dan budaya di Kabupaten Mojokerto tersebut.
“Iya, tahun ini pesanan terbanyak saat MajaFest kemarin. Jujur, kain tenun saya ini mulai dikenal sejak mendapatkan pembinaan dari Disperindag Kabupaten Mojokerto. Ini awalnya usaha dari mertua saya, dari Bandar Kidul, Mojoroto, Kediri,” tuturnya.
Desa Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri merupakan Kampung Wisata Tenun. Mertua Budi merupakan salah satu perajin kain tenun di Kota Tahu tersebut. Ia belajar selama satu bulan pada tahun 2012 lalu dan mengembangkan di rumahnya, di Mojokerto.
“Tahun 2012 an, setelah keluar pabrik Pasuruan, saya belajar satu bulan belajar akhirnya dibawa kesini. Saya kembangkan, pembeli ya baru di daerah di Jawa Timur saja. Ada online, ada yang offline. Dalam sehari, dua potong kain tenun berukuran 2,5 meter,” urainya.
Dalam satu bulan sekitar 54 lembar kain tenun. Budi mengutamakan kwalitas dan motif khas Mojopahit. Untuk harga kain tenun, mulai dari Rp250 ribu, sarung Rp350 ribu dan shal Rp150 ribu. Budi menjelaskan terkait proses pembuatan kain tenun yakni dari benang dasar warna putih.

Pewarnaan dilakukan untuk memunculkan motif karena sebelumnya kan sudah digambar dan diikat. Setelah dimasukkan ke cairan pewarna batu dipintal ke ATBM. Saat ini, ia mengaku banyak permintaan motif Majapahit sehingga kedepan mengembangkan motif Majapahit. [tin/kun]








