Jember (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember, Jawa Timur, bertakziah dan memberikan santunan kepada keluarga almarhumah Faiqotul Hikmah (22), perempuan warga Pakem, Kecamatan Sumbersari, yang menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur.
“Kami berbelasungkawa atas kejadian di Kanjuruhan. Terrnyata ada warga Jember yang jadi korban. Saya mendapat pesan dari Gus Muhaimin (Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar) agar segera datang dan memberikan bantuan kepada keluarga korban,” kata Ketua DPC PKB Jember Ayub Junaidi, di rumah duka, Senin (3/10/2022).
Menurut Ayub, salah satu anggota keluarga korban adalah anggota Banser NU. “Masih warga nahdliyyin juga. Kami datang memberikan dukungan kepada keluarga agar bisa menerima tabah dan sabar,” katanya.
Ayub terkesan dengan cerita tentang keseharian Faiqotul semasa hidup. “Korban sangat sayang kepada ibunya. Sebelum berangkat, ibunya dibelikan televisi dan kalung. Semoga almarhum karena sayang kepada ibunya menjadi anak yang salihah dan insya Allah mendapatkan surga daei Allah SWT,” katanya.
Dua warga Jember yang meninggal dunia dalam kejadian itu adalah Faiqotul Hikmah (22), perempuan warga Pakem, Kecamatan Sumbersari, dan Nauval Putra Aulia (19), pria warga Lamparan, Wirolegi.
Nurlela, kakak Faiqotul, mengatakan, adiknya memang menyukai Arema. Sang adik berangkat bersama kawan-kawannya dengan bersepeda motor. “Tidak tahu, temannya banyak. Dia sering nonton sepak bola. Bulan kemarin ke Malang juga,” kata Nurlela.
Nurlela mendengar kabar buruk itu dari salah satu teman Faiqotul di Wirowongso, Kecamatan Ajung. “Ditelpon jam setengah dua belas (malam),” katanya.
Menurut Abdul Mukit, teman Faiqotul, ada 14 orang dari Jember yang berangkat ke Malang lewat Piket Nol, Lumajang. “Saat di stadion, saya tidak punya tiket. Korban (Faiqotul) dan temannya sudah punya tiket,” kata Mukit.
Mukit meminta Faiqotul menunggunya. “Saya masih mau mencari tiket,” katanya kepada Faiqotul saat itu.
Tapi Faiqotul bersikeras ingin segera masuk stadion Kanjuruhan. “Nanti keburu habis sepak bolanya. Aku sama temanku,” katanya, ditirukan Mukit.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pkb-jember”]
Mukit pun tak bisa mencegah. “Ya sudah hati-hati,” katanya kepada Faiqotul.
Mukit akhirnya tak jadi masuk stadion. Hatinya tak tenang. Ia berkali-kali mengirimkan pesan WhatsApp kepada Faiqotul dan meneleponnya.
Muqit makin gelisah, karena Faiqotul tak juga membalas pesannya. Begitu pertandingan selesai, ia berusaha mencari Faiqotul. Gagal. Ia tak menemukan Faiqotul, sampai kemudian salah satu kawan meneleponnya.
Faiqotul ternyata sudah dalam keadaan tak bernyawa. “Dia meninggal di stadion,” kata Muqit.
“Semoga korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dan kesabaran. Kami berdoa korban yang saat ini masih dalam perawatan bisa segera pulih dan sehat kembali,” kata Bupati Hendy Siswanto di lokasi terpisah, ditulis Senin (3/10/2022).
Hendy berharap peristiwa di Kanjuruhan menjadi pelajaran dan membuat semua pihak melakukan introspeksi diri. “Indonesia dan persepakbolaan negeri yang kita cintai ini sedang berduka. Mari kita bersama-sama memperbaiki dan mudah-mudahan kejadian ini yang terakhir, tidak terjadi lagi pada masa mendatang,” katanya. [wir/but]






