Jombang (beritajatim.com) – Santri asal Banyuwangi yang menuntut ilmu di salah satu pesantren di Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, BM (14), meninggal diduga dianiaya seniornya.
Atas kejadian tersebut, Pj (Penjabat) Ketua PWNU Jatim (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur) KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mengajak semua pihak untuk mengambil pelajaran dari meninggalnya santri tersebut.
Gus Kikin meminta semua pihak untuk memberikan doa terbaik kepada almarhum. “Semoga ini menjadi tragedi terakhir yang terjadi di lingkungan pesantren,” ujar Gus Kikin yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini, Minggu (3/3/2024).
Gus Kikin juga mengajak semua pihak untuk melakukan introspeksi dan evaluasi secara berkelanjutan. Sebab, perubahan perilaku di kalangan remaja saat ini memang seringkali menimbulkan hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Hal tersebut, menurut cicit Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, juga tidak bisa dilepaskan dari pola pengasuhan di lingkungan keluarga. Banyak orang tua yang menjadikan gawai sebagai ‘pengasuh’ bagi anak-anak mereka. Bahkan sejak usia balita.
Akibatnya, tidak sedikit yang meniru perilaku kekerasan dari apa yang mereka tonton di gawai tersebut. “Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pengurus dan pengasuh pesantren,” ungkapnya.
Karena itu, lanjut Gus Kikin, pengelola pesantren harus selalu adaptif dan antisipatif terhadap berbagai perkembangan dan perubahan yang ada di tengah-tengah masyarakat. “Tentu dengan tetap menjadikan nilai-nilai luhur pesantren sebagai inspirasi dan pedoman dalam membimbing keseharian para santri,” tegasnya.
Sebelumnya santri di Kediri yang berasal Banyuwangi BM (14) tewas dianiaya teman-temannya. Pasca peristiwa itu, Polres Kediri Kota menetapkan empat santri sebagai pelaku, NN (18) siswa kelas 11 asal Sidoarjo, MA (18) siswa kelas 12 warga Kabupaten Nganjuk, AF (16) asal Denpasar, Bali, dan AK (17) warga Surabaya. [suf]






