Bojonegoro (beritajatim.com) – Satu persatu masyarakat datang. Dari anak kecil sampai orang dewasa. Tumpah ruah memenuhi lapangan desa. Mereka menyatu. Duduk di alas tikar, tanpa mengenal kelas sosial. Menyaksikan pertunjukkan seni tradisional, Sandur.
Keramaian masyarakat yang menyaksikan pertunjukan sandur menarik pedagang berjualan. Pelapak jajanan, mainan anak-anak dan lainnya berkumpul menawarkan dagangannya. Mereka sudah mulai bersiap sejak sore. Sementara pertunjukan di mulai sekitar pukul 20.00 WIB, kemarin.
Kesenian sandur merupakan seni tradisi yang sudah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud pada 2018. Kesenian yang memiliki pakem soal kehidupan masyarakat agraris itu masih berkembang di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.
Baca Juga: Unusa Masuk 10 Kampus Swasta Terbaik Versi Webometric 2023
Sandur di Bojonegoro sekarang mulai dikembangkan. Cerita yang diangkat bukan hanya isu pertanian, tetapi lebih beragam. Mengikuti kondisi sosial masyarakat. Seperti misalnya pertunjukan yang digelar oleh kelompok Sandur Kembang Desa di lapangan Desa Sidorejo Kecamatan Sukosewu.
Pertunjukan yang diinisiasi oleh kelompok mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) Malang yang sedang melakukan KKN di desa setempat itu menarik banyak perhatian masyarakat. Terlihat mereka sangat menikmati alur cerita yang dibawakan sejumlah anak wayang (tokoh sandur).

Sesekali gelak tawa terlihat dari raut wajah penonton. Apalagi saat menyaksikan adegan perkelahian yang diperankan oleh Pethak dan Balong dalam sebuah gerakan tari. Keduanya kemudian dilerai Wak Tansil. Tokoh yang di tuakan dalam sandur, itu kemudian memberikan wejangan-wejangan.
Wejangan yang disampaikan dalam cerita itu, merupakan tema yang ingin diangkat oleh mahasiswa KKN. Pengenalan tentang kenakalan remaja dan bahayanya terhadap kualitas pendidikan sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Menyapa Warga Jember dengan Aksi Bersih-Bersih di JFC 2023
“Sandur memang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Karena cerita yang dibawa dekat dengan mereka,” ujar Ketua Panitia Program Sosialisasi Bahaya Kenakalan Remaja Terhadap Kualitas Pendidikan Remaja berdasarkan UU di Indonesia, Febriana Al Hilwa Layyina, Jurusan Ilmu Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang, Minggu (30/07/2023).
Selain efektif dalam menyampaikan pesan, pertunjukan sandur juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Sejumlah pedagang asongan dengan sendirinya berdatangan. Salah seorang pedagang es, Taslim asal Desa Kabunan Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro mengaku mendapat informasi adanya pertunjukan sandur itu dari grup yang diikuti.
Setiap ada keramaian, dia bersama istrinya selalu berusaha datang untuk berjualan. Sementara jika sedang tidak ada kegiatan, ia bekerja sebagai tukang kayu. “Kelompok pedagang sendiri punya grup yang dipakai tukar informasi. Kemudian saya jualan ke sini dan Alhamdulillah ramai,” ujarnya.
Baca Juga: Wawan Hendrawan Jalani Debut Bersama Madura United
Sementara Koordinator Desa KKN UB Malang Kelompok 900, M wahyu Tri Arianto mengatakan, salah satu program yang dikolaborasikan dengan kelompok kesenian tradisional itu selain memberikan edukasi kepada masyarakat juga turut menghidupkan kelompok seni tradisi dan ekonomi masyarakat. [lus/ian]






