Ponorogo (Beritajatim.com) – Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan produk tradisional seperti sandal kayu atau bakiak semakin langka di pasaran. Namun, Dedy Syaufiq Riza, pengrajin asal Ponorogo, mampu mempertahankan eksistensi produksi bakiak dengan sentuhan artistik melalui rumah produksinya, Pesona Ukir.
Sandal kayu buatan Dedy berbeda dari bakiak konvensional. Menggunakan bahan kayu trembesi dan jati, Ia memanfaatkan kayu-kayu limbah untuk diolah menjadi produk bernilai seni tinggi. Dia mengaku awalnya hanya hobi saja, namun akhirnya keterusan dengan banyaknya pesanan.
“Awalnya hanya hobi, ada kepuasan tersendiri saat saya bisa mengubah bahan yang sering diabaikan menjadi sesuatu yang baru dan artistik. Tidak harus dari kayu papan yang dipotong rapi, yang penting ukurannya cukup untuk diolah,” ungkap Dedy, ditulis Selasa (12/11/2024).
Salah satu keistimewaan bakiak buatannya adalah adanya ukiran pada bagian telapak kaki yang memberikan kesan unik dan estetis. Selain itu, sandal ini tidak menggunakan tali penjepit, membuatnya berbeda dari bakiak pada umumnya.
“Semua materialnya murni dari kayu, termasuk bagian jepitnya. Biasanya bakiak di pasaran polos, tapi saya ingin menonjolkan daya tarik dari ukirannya,” kata Dedy.
Usaha produksi bakiak ukir ini, dimulai Dedy tiga tahun lalu, di masa pandemi COVID-19. Saat itu, Ia yang sedang gabut, membuat satu pasang bakiak sebagai prototipe. Tanggapan positif dari banyak pihak mendorongnya untuk meningkatkan produksi dan memasarkan hasil karyanya di berbagai pameran dan bazar. “Banyak masukan dari para pembeli yang akhirnya memantapkan saya untuk terus mengembangkan produk ini,” katanya.
Sandal bakiak produksi Dedy kini diminati tidak hanya oleh masyarakat lokal Ponorogo, tetapi juga merambah ke kota-kota besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jepang. Saat itu, ada warga negara asing (WNA) karena ada acara Grebeg Suro akhirnya singgah di Bumi Reog. WNA itu pun melihat produksi sandal bakiak ukirnya dan tertarik akhirnya membelinya. Dalam sehari, Dedy mampu memproduksi sepasang bakiak dengan detail artistik. Setiap pasang dijual seharga Rp60 ribu, harga yang sepadan dengan nilai seni dan keunikannya. “Pernah ada turis asing yang singgah ke Ponorogo, melihat produksi saya, dan membelinya,” ceritanya bangga. (end/kun)






